Film ::: Die Beautiful (2016)

Jaman masih pake seragam putih merah, jaman dimana masih sering pulang sekolah sambil mata sembab adalah jaman dimana gue beberapa kali sering membayangkan bahwa selimut atau seprei atau korden adalah semacam gaun panjang mewah menjuntai manjah. Masuk kamarnya ibuk, kunci pintu, bersyukur dulu lemari pakaian ibuk ada cermin-nya yang lumayan gede, jadi cukup puas buat memandangi diri dibalut gaun “hayalan”. Melenggak lenggok di atas kasur, kemudian langsung turun dari kasur sambil loncat. Ya padahal seumur-umur gak ada sejarahnya juga seorang model memperagakan busana saat catwalk ada sesi loncat bak spiderman, tapi begitulah kenyataannya. Jaman itu, bagi gue, mencari bahagia itu sederhana, walau kudu kunci pintu kamar…

Begitu juga dengan Patrick, sosok sentral dalam film Philipina bertajuk Die Beautiful ini. Malah bisa dibilang dia lebih beruntung dari gue karena bisa bermain miss-miss-an sama temen-temen semasa kecilnya, walau sama bapaknya diganyang habis-habisan. Trauma? Tentu saja tidak. Patrick tumbuh menjadi remaja ngondek fabs yang jaga penampilan. Semasa SMA, Patrick mengagumi teman sekolahnya. Bersama karib kentalnya, si Barbs, mereka berdua bersaing untuk mendapatkan “cinta” sang idola. Walau sang idola sendiri sudah memiliki girlfriend, yang sering bikin mereka sebel, tapi tetep ajah, hayal-hayal anak gadis gak menyurutkan niat buat mengejar cinta sang idola hingga pada suatu ketika. Patrick mendapat kesempatan untuk diajak nongkrong bareng sang idola dan kawan-kawannya. Dan tak disangka dan tak dinyana, ada peristiwa yang akhirnya membuat patrick “terluka”.

Seperti itulah kisah masa lalu Patrick, sebelum namanya berganti menjadi Trisha Echeevaria. Setelah gaduh dengan bapaknya, diusir, dipaksa minggat dan mencari penghidupan sendiri. Beruntung Barbs selalu setia kawan. Menampung sahabatnya dalam kesusahan. Yang akhirnya, di ujung usia Trisha, Barbs yang selalu mendampinginya. Beruntungnya Trisha memiliki sahabat yang baik hati. Semakna dengan judul dalam film ini, Trisha, Die Beautiful.

Menonton film Die Beautiful ini, seperti menonton kembali rentetan adegan masa lalu yang pernah gue alami. Hanya saja yang membedakan, kalau Patrick adalah seorang transgender, sementara gue bukan transgender. Kalau Trisha terobsesi dengan menjadi peserta dalam Beauty Pageant, gue hanya penikmat dari acara Beauty Pageant tersebut.

Banyak cuilan-cuilan kisah dalam film ini yang memang sangat real dengan kenyataan yang ada. Apa yang dialami oleh Trisha juga dialami oleh sebagian transgender di Indonesia. Bagaimana mereka hidup dari guyonan-guyonan yang secara ironi sebenernya untuk mentertawakan ketragisan hidup mereka sekaligus menghibur diri “dan orang lain”.

Menjadi seorang transgender bukan semacam menjadi badut atau menjadi crossdresser, yang setelah kelar tujuan balik ke dalam raga semula. Bukan semacam itu. Menjadi transgender adalah ketika kamu menghayati bahwa dirimu adalah bukan gender yang selama ini melekat di tubuhmu, dan merasa ada yang bukan bagian atau tidak ada di tubuhmu, dan ada hasrat untuk mengubah gender itu sendiri, itu lah definisi transgender. Dan transgender bukan melulu mewakili kondisi laki-laki yang mengubah dirinya menjadi perempuan, tapi juga sebaliknya, perempuan yang bertransisi menjadi laki-laki juga adalah transgender. Yang biasa disebut, transmen.

Kembali ke Trisha, sebagai transpuan (transgender perempuan) hidupnya tak ubahnya sebuah drama sinetron. Bahkan pun beberapa kisah pun sepertinya memang diambil dari potongan-potongan kejadian yang memang sering dialami oleh teman-teman transgender. Gue akan mencoba untuk merunut satu persatu…

  • Dibilang menyalahi kodrat, semacam aib keluarga
  • Diusir dari keluarga
  • Di sekolah mendapat bully/rundungan
  • Selalu dianggap hidupnya isinya “seks” melulu
  • Akses mendapatkan pekerjaan yang sangat dibatasi oleh norma-norma
  • Bermasalah di toilet umum /fasilitas umum
  • Untuk urusan percintaan, pasti kebagian menjadi ratu toroksari alias dia yang kerja sementara “suami”nya yang cuman duduk ongkang-ongkang kaki menikmati duit jerih payah mereka. Dan transpuan pun pada akhirnya “terpaksa” menganggap itu lumrah.
  • Bahkan hingga hilang jiwa alias meninggal dunia, jenazah mereka pun masih dipeributkan, biasanya banyak keluarga yang meminta mendiang dikebumikan atau dikremasi dalam wujud menyesuaikan kodrat, sementara teman-teman yang selama hidupnya berbagi suka dan duka diberi wasiat untuk dikuburkan/kremasi dengan bentuk tubuh yang terakhir.
  • Dan sepertinya masih ada yang lainnya…

Bayangkan kalo hidup kita diisi dengan semua hal macam di atas, gimana gak stress cobak?! Jadi jangan heran bila mereka memiliki cara sendiri untuk menghibur hidup mereka yang serba pahit. Berkumpul dengan sesama transpuan adalah salah satu contohnya. Persaudaraan yang terbangun di antara mereka pun biasanya menjadi solid. Tapi ujung-ujungnya menjadi hancur lantaran ternyata ada perebutan/persaingan untuk mendapatkan laki-laki. Tidak bisa dipungkiri memang. Dan kebanyakan juga sih mereka ini pasrah untuk di dua kan laki-laki yang sudah beristri. Alasannya tentu saja klasik, karena transpuan tidak bisa hamil. Sehingga hal ini lah kiranya yang akhirnya menjadikan posisi tawar transpuan selalu ngerasa gak punya pilihan. Padahal pun kalo mau ditelusuri, banyak laki-laki beristri atau yang belum, yang gak butuh rahim untuk memiliki anak bersama-sama. Sementara banyak juga transpuan yang masih beranggapan bahwa menjadi perempuan gak akan lengkap bila belum merasakan hamil. Makanya gue pribadi salut buat kawan-kawan transpuan gue yang sudah memiliki cara pandang lain dalam memaknai hidupnya.

Kali ini gue gak ngebahas secara teknisnya, film ini cukup berwarna. Dengan semua jajaran cast yang gak bikin greget manja mempertanyakan karir keaktorannya. Semua pemain menjalankan perannya seakan-akan menjadi dirinya sendiri. Terlebih, gue salut buat Christian Bables yang memerankan Barbs. Di sini gue melihat dia sangat lepas dan bisa mengimbangi karakter Trisha yang diperankan dengan cukup apik oleh Paolo Ballesteros. Salut juga buat Jun Lana yang sudah dengan susah payah menciptakan sebuah ruang dimensi manja yang berisikan perempuan-perempuan sosial yang gigih berjuang untuk mendapatkan makna dari kebahagiaan hidup. Bahkan setelah mati.

Film ini menjadi cerminan bahwa di dunia ini hidup gak selamanya indah, tapi hidup bisa menjadi indah bila kita bisa memilih untuk menjadi diri kita sendiri. Film yang memaksa kita untuk menangis dalam tawa ini sangat bagus untuk ditonton oleh mereka yang hidup dengan stigma dan diskriminasi. Dan sangat pas ditonton oleh mereka yang hilang empati untuk bercermin. Tidak kah semua manusia yang hidup di dunia ini adalah sama?

Terima kasih buat Tuhan, Semesta alam, karena telah menghadirkan sosok mereka di bumi. Kita jadi tahu, mana kebaikan, mana kejahatan.

Rating : 4/5

Noted : ada Spinoff-nya dari film ini berjudul Born Beautiful dengan mengambil tokoh sentral Barbs sebagai pusat ceritanya.

Advertisements

~ by Imamie on September 30, 2017.

One Response to “Film ::: Die Beautiful (2016)”

  1. wah jadi penasaran.. pingin nonton nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: