Film ::: Mereka yang tak Terlihat (2017)

Mengkonsumsi cerita horror bagi gue bukan sesuatu yang terlarang. Dari kecil sudah dikelilingi dengan peristiwa klenik, mistis dan magis. Dari soal dongeng pengantar tidur hingga mitos leluhur yang ternyata memiliki kesaktian. Konon “kesaktian”itu menurun di gue dalam bentuk lain.

Menonton Mereka Yang tak Terlihat seakan-akan mengajak gue untuk jalan-jalan ke masa lalu yang penuh dengan liku-liku. Film ini seakan-akan dibuat untuk menegaskan kembali, bahwa gue tidak “gila” sendirian. Ada yang lain di luar sana yang memiliki kemampuan yang sama. Percaya gak percaya, gue memilih untuk mengambil sisi positifnya aja. Toh, menjadi “gila” gak semua orang bisa, butuh bakat dan kemauan yang keras.

Film ini cukup drama untuk bisa dibilang film horror. Walaupun efek jump scare nya terkadang gak lumayan ngefek. Penampakan, atau mungkin lebih tepatnya “penampilan” para karakter setan-setanan cukup masuk akal untuk ukuran orang yang pernah bersua dengan mereka. Kali ini satu kecupan di pipi Billy Christian gue sematkan. Secara keseluruhan gue tidak keciwa, walau gue juga gak bisa mengatakan film ini bagus, tapi gue yakin, semakin banyak jam terbang, sepertinya Billy kedepannya bisa membikin drama horror yang membanggakan.

Film diawali dengan cerita seorang Saras (Estelle Linden), seorang anak yang dianugerahi bakat khusus yaitu bisa melihat makhluk astral. Sementara adikny, Laras tidak memiliki bakat itu. Berdua mereka dibesarkan oleh ibunya saja, Lidya (Sophia Latjuba). Bertiga mereka hidup dalam semi berkecukupan. Selain dari jualan kue kering, entah, ibu mereka ini kerja sambilan apa lagi, bisa jadi masih ada warisan dari orang tuanya, mengingat rumah tempat tinggal mereka juga terbilang bangunan kuno jaman kolonial, tapi berhubung nenek Saras adalah semacam nenek yang diperankan oleh Maria Oentoe, jadi fix, mereka sebenernya blasteran bule yang warisannya habis di turunan ke 4.

Awal muasal Saras bisa berkomunikasi dengan makhluk astral adalah ketika kematian neneknya. Saras mendapatkan pesan dari neneknya perihal perhiasan yang dipakai sewaktu pemakaman. Namun Lidya tidak serta merta percaya begitu saja. Lidya mulai dari itu menganggap Saras sarap. mungkin lebih tepatnya Lidya punya alasan kenapa dia bersikap dingin seperti itu kepada Saras.

Semenjak interaksi dengan neneknya di dunia astral, Saras pun akhirnya bisa merasakan kehadiran-kehadiran makhluk astral di sekitarnya. Selalu muncul dan selalu ada. Rumor kebisaan Saras bisa melihat makhluk astral di dunia, membuat seluruh penghuni alam astral berbondong- bondong mencari Saras.

Awalnya Saras risih, takut, males… namun dia memahami bahwa ada semacam tanggung jawab yang muncul bila mendengar cerita-cerita yang lain dari makhluk astral. Apalagi ditambah dengan kasus kematian sahabatnya. Hingga Saras memutuskan untuk membantu memecahkan masalah orang-orang meninggal yang masih ada urusan dengan yang masih hidup.

Saras sudah gak sedisiplin itu. Kesibukannya sebagai pembawa pesan dari makhluk astral semakin menjauhkan keduanya. Termasuk ketika Saras kemasukan setan gegara adiknya, si Laras bermain Jaelangkung. Seperti film horror pada umumnya, Lidya semakin fix kalo hubungannya semakin erat dengan Saras.

Melihat tingkah pola Saras, Lidya kewalahan dan memanggil kakaknya yang seorang psikiatris. Rupa-rupanya ada untaian benang merah yang akan menjadi latar belakang kenapa Lydia sangat keras dalam mendidik anaknya.

Hingga pada suatu ketika, Saras dan kedua temannya berniat untuk menginvestigasi dibalik kematian Dinda, alumnus sekolah yang sama dengan Saras namun berbeda perlakuan dari masyarakatnya. Hingga Saras harus mendatangi rumah orang tua Dinda untuk mengumpulkan teka teki. Yang akhirnya membawa Saras pada permasalahan baru yg lebih rumit.

Semakin dewasa semakin peka. Saking cintanya kepada sahabatnya, Saras melakukan sedikit hal-hal melampaui batas. Kesabaran Lidya juga sudah habis. Dan apa yang terjadi setelah ini, Saras meninggal dunia. Film yang dibikin dengan gaya bertutur dari sudut pandang Saras akhirnya mencapai klimaks ketika Saras adalah …….tiiiiiiiiiiit!!!!!!!!

Gue mengaanggap bahwa film ini adalah karya Billy Christian yang paling enak buat dinikmati. Editan di setiap potongan adegan sangat rapi. Kemunculan hantu buntung dan kawan-kawannya memang tidak terlalu menakutkan, apalagi kalau nontonnya di bioskop, pasti akan muncul suara cekikikan. Menyebalkan memang. Tapi begitu lah orang Indonesia yang baru pertama kali nonton di bioskop. Senyumin aja!

Akting yang ditampilkan keluarga Lydia juga cukup lumayan tidak jelek. Hanya saja, saat kemunculan arwah nenek, gue hanya ngebayangin, pas Lydia lagi sibuk bikin kue, tetiba ada suara nenek, “pintu teater 1 sudah dibuka…..” kan meledak tuh bisa bisa…

Salut buat tim visual art nya yang sudah senatural mungkin mengolah fisik para sesereman tidak terlihat lebay, mbak-mbak jawa di dominasi warna hijau juga cukup tegas dalam penggambarannya. Konon yang hantunya mengeluarkan busa atau semacam bubur adalah mereka – mereka yang mati diracuni. Tapi cukup berkesan untuk make up hantu perempuan dalam lift.

Namun diantara semua keutuhan film, ada dua hal yang gue suka dari film ini. Tema indigo dan bullying. Keduanya adalah potongan bagian dari masa lalu, namun sangat ada kesan bagi kehidupan gue selama menjalani hidup.

Terlebih untuk kasus bullying. Di film ini juga sebenernya lumayan cukup apik menggambarkan situasinya. Tapi menjadi berlebihan tatkala adegan ala sinetron diadopsi. Walo memang sebenernya menjadi bias, apakah sinetron yang mengadopsi kejadian bullying atau tindakan bullying yang mengadopsi dari sinetron yang ditonton.

Kali ini gue gak lagi kecewa sama Billy. Walau pun sebenernya juga gue belum nonton Petak Umpet Minako, tapi sepertinya lebih aman kalau gue tidak menontonnya dari pada gue patah hati pada Billy…. oia, salah satu cast-nya ada yang indigo… pantesan….

Hidup para Indigo!!! Hidup para survivor bullying!!!!!

Rating: 3,5/5

Advertisements

~ by Imamie on October 16, 2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: