Film ::: Posesif (2017)

Cinta

Terlalu menyebalkan dan tidak mengenakkan bila diperbincangkan di saat kita lagi ranum-ranumnya single. Walau pun kenyataannya sudah terbiasa tegar dengan segala terpaan pertanyaan, “mana gandengannya?” dikata kita truk kali yaa? Tapi secara kodrati dan alamiah, dari lubuk hati terdalam sangat-sangat nelangsa—ini gak berlaku buat yang lupa perih karena sendiri—dan ujung-ujungnya pura-pura bahagia atau justru bahagia dengan keadaannya.

Nah kemudian, giliran berpacar, bergandengan, bersecinta satu sama lain malah nemu kerikil-kerikil tajam tapi tak setajam tatapan mata ibu Mawarni, kerikil itu bernama Posesif.

Ada angin, ada hujan, gue seakan-akan dibawa untuk menyusupi sebuah karya Edwin yang kesemua filmnya belum pernah gue tonton di bioskop. Gak tau kalo yang lain, jaman-jaman dia bikin film “nyeleneh” nontonnya ya di festival-festival atau paling gak di internet. Kali ini gue geleng-geleng kepala dengan daya tak lebih dari sekedar rasa penasaran, hal semacam apa yang akhirnya menggiring sang gerangan mengolah rasa ke dalam medium mainstream untuk dipertonton para penikmatnya dengan mudah. Apa kah itu??

Sendiri

Membeli tiket sendiri. Masuknya pun sendiri. Apalagi pas milih kursi, duduknya pun harus sendiri. Sepertinya di dalam ruangan, gue yang sendiri. Jangan sedih, masih ada mas-mas projectionist yang setia menjaga film dan gue dari jauh…

Byur….

Namanya Lala, jago loncat dari ketinggian kolam yang disetting agar keliatan indah di setiap liukan tubuhnya yang atletis. Disiplin seperti menjadi nama tengahnya. Trus ngebayangin, LALA DISIPLIN LANTASIA. Gak deh, gak jadi. Pokoknya, si bapak yang killer mendidik dia menjadi pribadi yang tangguh. Selayaknya para atlit di negeri tercintah ini. Berteman dengan dua siswa aja, gak lebih. Mungkin bisa jadi hari-hari Lala diisi dengan latihan dan latihan, sehingga diwajarkan waktu baginya mencari teman sangat minim. Bahkan gak ada. Cukup

Rino dan Ega. Ibarat pun mereka berdua ini udah deket sejak dalam pikiran si Lala kali ya.

Tapi prinsip Lala yang hanya dua teman mendadak terbuyarkan tatkala muncul Yudhis dengan segala kebengalannya yang dimaknai seksi untuk ukuran student zaman now. (Dan sepanjang kemunculan Yudhis, penonton di depan kanan dan kiri—kebanyakan kids zaman now—selalu orgasme dengan menyebut nama tuhannya, desah-desah nggilani.)

Lala yang akhirnya berkenalan dengan Yudhis melalui cara mbeling pun sepakat membina relasi persesayangan dengan cukup singkat padat dan berisi. Icik-icik keciprit cinta-cintaan gombal pun menjulur dari lidah Yudhis. Diliat dari gelagat, tertuang jelas bahwa Lala baru kali pertama cintanya menegang hingga hepi berkelindan. Ada takut-takutnya sih. Sementara Yudhis maunya cinta untuk selamanya. Ga ada takut sedikitpun. Ada sih, satu, ntar aja…

Mendadak film ini menjadi posesif…

Gak salah kalo judul film ini posesif. Film yang memaksa penontonnya untuk nonton sambil berpikir lembek. Film yang sebenernya bagus dari segala macam teknisnya tapi buruk dari segi penceritaannya. Film yang membuat gue berpikir bahwa kekerasan dalam berpacaran adalah lumrah dan harus dimaafkan dan diberi kesempatan kedua, ketiga bahkan kalau perlu kesempatan itu gak berbilang, kasih terus kesempatan buat pelaku kekerasan melanggengkan aksinya. Habis mukul, minta maaf, mukul minta maaf, gitu aja terus sampe filmnya kelar.

Yang sedih dari film ini adalah pula menggariskan bahwa asal muasal kekerasan yang biasa dilakukan Yudhis adalah karena pola asuhan dari emaknya yang super kontil alias suka maen kekerasan. Yang kita sebagai penonton seakan-akan harus memaklumi apa yang telah dilakui Yudhis kepada Lala. Tak sekali dua kali, bahkan saking—ditekankan karena dipakai sebagai judul—posesifnya, diceritakan Yudhis rela “membunuh” siapa aja yang merebut kesayangannya, walau niatnya hanya mencelakai, alih-alih semata. Dalam hal ini, Yudhis kembali lagi seakan-akan harus dikasihani karena hidupnya yang menderita. Mengasihani orang yang melakukan kekerasan berulang-ulang adalah tindakan bodoh. Hari ini, mungkin lebam di mata, besok kita gak pernah tau apakah sebilah pisau menancap di dada. Terus kalau sudah macam kejadian kayak gitu, masih harus memaklumi Yudhis? Langkah pertama adalah putuskan tentu saja. Minta maaf habis berbuat adalah pola pelaku kekerasan.

Dan yang lebih menyedihkan lagi, ending film ini, yang notabene bikin gue muntah keluar dari lubang hidung, kenapa harus begitu endingnya? KENAPA? Agar semua ABG kalo digamparin pacarnya harus diam saja gak melapor ke pihak yang berwajib atau KOMNAS PEREMPUAN, atau sesiapapun, teman, orang tua, sesiapapun?! Kayak ngajarin cewek kalo gak nyaman dalam berpacaran itu harus tetap dilakukan demi menyenangkan pacarnya… romantis dari mananya? Kecuali si Lala emang penggiat BDSM, baru deh… fix sampai disini, (pelaku BDSM pun juga paham konsen, gak asal gebak gebuk juga). Lha ini… seandainya dalam pembuatan cerita ini si penulis melakukan riset lebih kaya lagi, kayaknya gue gak perlu was-was… gila aja kan, penonton-penonton abg di belakang gue pada bilang, “Ih… so sweet banget!!” Padahal beberapa detik yang lalu tingkah posesif-nya gak ketulungan. Bangke kan… apa kabar penonton film ini dari planet lain, ntar dikatanya, “mau dong dicekik sampe membiru manjaaaah!!! Tanda sayang lho ini beib!!!”

Seandainya, si Lala gak perlu lagi memutuskan untuk kembali kepada Yudhis, mungkin gue gak mencak-mencak kayak gini…

Disaat yang lain menggalakkan stop kekerasan terhadap perempuan, yang ini malah, “cuss pukul akuh bang, atau kita gak jadi kabur ke Bali…”

Terakhir…. bukannya menggurui, kekerasan terhadap perempuan harus segera dihapuskan. Bagaikan mata rantai yang tidak terputuskan, kejadian akan lanjut dan berulang. Perempuan sebagai korban, sudah saatnya harus melawan. Jangan diam, berani untuk mengatakan tidak!

Sekali lagi, jadi kayak gini deh, “pacar cakep mah bebas mau ngapain ajah, termasuk ngebikin celaka orang!”

Tapi mam, film ini kan masuk banyak kategori di Festival Film Indonesia…?

– ya ini lah Indonesia….

Trus mam, hikmah dari semua ini apa?

– ya mungkin lu akan terlihat keren kalo lu posesif…

Rating: –

Advertisements

~ by Imamie on October 28, 2017.

One Response to “Film ::: Posesif (2017)”

  1. Parah nih film ngabisin duit aja yah mas. kalau saya pas lagi nonton film ini di bioskop yg sama dengan mas imam, mungkin kita bakalan muntah bareng yah? hehe. saya gak heran kok kalau dapat nominasi atau penghargaan, indonesia mau dilawan.
    oh ya salam kenal yah mas imam terimakasih reviewnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: