Cerpen ::: Jalan Pahlawan

•October 28, 2015 • Leave a Comment

“Kalau lewat Jalan Pahlawan jangan ngebut! Angker!”

Kalimat itu terlalu familiar bagi kami, penduduk sekitar Jalan Pahlawan yang sudah puluhan tahun hidup dengan urban legend yang konon muncul karena seringnya terjadi kecelakaan di sepanjang jalan yang masih dalam kawasan pabrik-pabrik besar penghasil tekstil hingga material bangunan. Jalan Pahlawan memang dikenal sebagai jalan maut. Sudah tidak terhitung jumlahnya berapa nyawa yang melayang sia-sia di jalanan tersebut. Mulai dari korban anak kecil, remaja, ibu-ibu hingga beberapa lansia. Banyak yang bilang, karena kebanyakan dari mereka tidak mendengarkan nasihat untuk jangan mengebut. Memang, kebanyakan yang menjadi korban adalah bukan penduduk sekitar lokasi. Mereka berasal dari luar daerah yang mungkin kebetulan lewat. Karena Jalan Pahlawan adalah satu-satunya akses penghubung antar dua daerah.

Banyak yang bilang, Jalan Pahlawan itu bekas areal perkuburan. Kuburan massal korban perang di masa penjajahan Jepang. Walau kenyataannya sekarang, jalan tersebut tidak seseram dulu. Sudah banyak pabrik dibangun, namun masih saja banyak yang takut dan berpikir seribu kali untuk melewatinya. Mereka lebih memilih ngebut apabila jalan sendiri di sepanjang Jalan Pahlawan apabila kondisinya sepi. “Daripada nanti ada apa-apa!” begitulah alasannya.

Sempat ada cerita, suatu malam menjelang dini hari, karyawan pabrik yang pulang sendirian melihat sekelompok barisan tentara Jepang yang sedang latihan baris berbaris, selintas pemandangan itu membuat karyawan pabrik tersebut menjadi bernyali ciut. sudah tentu panik, ketakutan dan kemudian pecah konsentrasi yang akhirnya oleng dan menabrak pohon Jarak. Upayanya untuk tetap terkendali, seakan-akan tidak ada daya, raganya seperti ada yang mengontrol. Memang terlihat janggal, ngebut di jalanan sepi, tidak ada kompetitor, kendaraan besar tidak ada yang masuk keluar. Banyak yang mengaitkan dengan hal-hal klenik. “Salah sendiri ngebut di jalan itu!”

“Kabarnya kepala karyawan pabrik itu pecah!”

“Salah sendiri, sudah ngebut gak pake helm pula!”

“Memangnya dia gak tau ya kalo jalanan disitu angker!”

“Ini bukan masalah angker atau tidak. Coba kalo dia gak ngebut dan pake helm!”

“Alasan dia ngebut kan gara-gara tempat itu angker, coba kalo gak angker, dia kayaknya gak bakalan ngebut!”

“Ah, kalo saya lebih baik ketemu hantu dari pada nantinya malah jadi hantu di tempat itu!”

“Jadi kamu gak takut lewat situ?”

“Sebenernya sih takut, makanya saya selalu ngajak kamu kalo lewat situ!”

“Dasar!!!”

Suatu hari, ada selentingan kabar. Seorang ibu muda dengan membonceng anaknya tewas mengenas di Jalan Pahlawan. Tubuh ibu dan anak itu terlindas roda pengangkut material bahan semen. Hancur tidak berbentuk, terlebih kondisi fisik anaknya. Memprihatinkan. Lagi-lagi yang dijadikan tersangka adalah bapak-bapak yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai sopir di pabrik yang sebentar lagi selesai masa kontraknya. Menurut pengakuannya, saat dia hendak keluar dari lokasi pabrik, jalanan nampak lengang. Di siang bolong yang lumayan menyengat panasnya, tidak mungkin dia tertipu dengan fatamorgana. Sudah hapal dia dengan situasi yang menjadi rutinitas jalanan tersebut. Jam sekian siapa saja yang lewat, kapan konvoi buruh pabrik yang bubaran kerja dan juga aksi ugal-ugalan pelajar yang sangat meresahkan. Sehingga cukup dipertanyakan pula kesalahan yang dituduhkan kepada Pak Badri, sopir truk itu. Entah kasus itu sudah sampai mana pengusutannya, kabarnya sekarang pak Badri sudah tidak lagi terlihat jambang brewoknya di Jalan Pahlawan. Dan beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, sudah mulai beredar cerita tentang dongeng sosok hantu perempuan yang nampak sedang mencari sesuatu di pinggir trotoar di sepanjang Jalan Pahlawan.

Pernah juga saya menjadi saksi mata sendiri, sebuah kejadian yang membuat saya tidak bisa tidur selama dua hari tiga malam. Sehabis pulang dari nonton bioskop di bilangan kota Surabaya, saya dan Ardhi, teman saya, melewati Jalan Pahlawan, yang memang sudah menjadi pilihan kami untuk kembali pulang. Jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Kami berjalan cukup pelan, karena memang sengaja untuk mengetes keberadaan. Apakah ada penampakan seperti yang santer diceritakan. Walau ujung-ujungnya jantung dag dig dug tak karuan. Kami masing-masing ketakutan hanya dalam perasaan, meski raut wajah terpasang muka cengengesan.

Ternyata ada keramaian di sepanjang jalan. Puluhan muda-mudi nampaknya menggelar aksi trek-trekan sepeda motor protolan. Mungkin sengaja memilih jam malam karena dirasa sepi dari keadaan dan pantauan aparat. Padahal masih ada satu-dua kendaraan yang berlalu lalang. Ardhi dan saya sepakat berhenti. Tertarik untuk mengamati. Mungkin diantara segelintir pemuda ini ada yang kami kenali. Nyatanya tak satupun dari mereka teman pergaulan kami.

Dari jauh kami menyaksikan sepeda motor yang tinggal tulang rangka beradu balap. Mesin menyala. si kurus ceking berdiri di tengah-tengah memberi aba-aba. Bendera dikibarkan. Kedua motor melaju. Kencang. Yang satu memakai helm hitam sementara satu lagi tanpa menggunakan helm dengan rambut panjang diikat karet gelang. Sayup suara kedua pembalap karbitan itu menghilang ditelan malam. Dan beberapa menit kemudian kembali pada garis start pemuda ber-helm hitam. Sambil tergopoh-gopoh dia melepas pelindung kepalanya. Nyatanya perempuan yang kami lihat bila ditatap dari penampilan. Sambil panik dia mengatakan kalau lawan tandingnya terpelanting keluar jalan. Berhamburan lah seketika mereka menuju lokasi kejadian. Termasuk kami berdua. tanpa bermaksud latah.

Pemandangan yang mengerikan. Terdengar suara lolongan tangisan merintih kesakitan. Di balik semak-semak pemuda berambut panjang yang diikat karet gelang itu tergeletak dengan kedua kaki yang patah retak. Tulang keringnya keluar menembus kulit menyeruak. Darah merah membasahi jeans belel warna biru pudar. Kulit kepalanya mengelupas sehingga tulang tengkoraknya terlihat jelas. Matanya merah menyala tertutup oleh darah. Semuanya ketakutan. Ada yang berteriak-teriak telpon ambulan. Semuanya ketakutan. Ada yang terdiam sambil terduduk sesenggukan. Semuanya ketakutan. Ada yang kabur meninggalkan korban. Semuanya ketakutan. Begitu pun kami berdua. Sama-sama ketakutan. Kami berlalu sambil mengabarkan kepada orang-orang yang kebetulan kami papaskan,

“Ada kecelakaan mas! Tolong telpon ambulan!”

Semenjak peristiwa itu, saya memilih merebahkan diri di dalam kamar. Memudarkan memori yang selalu membuat saya malas dan enggan untuk menikmati makanan selama beberapa hari.

Kalau diperhatikan. Banyak sekali kecelakaan yang terjadi disebabkan karena kondisi personal yang tidak mengutamakan keselamatan diri dalam pengendara. Menyepelekan fungsi helm, kebut-kebutan. Dan juga meniadakan tata tertib berkendaraan yang lain. Sangat fatal untuk diabaikan. Dengan alasan lumrah, lokasi tujuan yang dekat, tidak ada polisi, bahkan alasan gerah menggunakan helm sering menjadi penyebab kecelakaan yang berbanding terbalik dari alasan yang lumrah tadi. Walau masih banyak juga yang menjadikan alasan angker sebagai hal utama yang patut untuk dipersalahkan.
Sepengalaman saya menjadi pengguna Jalan Pahlawan, belum pernah ketemu apa yang namanya penampakan hantu atau setan. Walaupun begitu, bukan berarti saya berharap untuk bisa ketemu. Entah lah. Saya berada pada dua keyakinan. Antara mengakui keberadaan dunia astral dengan tidak mau ambil pusing atas eksistensi makhluk astral yang tentu saja karena alasannya satu. Takut. Namun kembali kepada pernyataan yang pernah saya lontarkan. Lebih baik saya ketemu hantu dari pada menjadi hantu lantaran melanggar peraturan lalu lintas. Toh, selama ini, sampai detik ini, saya tidak pernah ketemu hantu. Lama-lama saya pun—mungkin tidak lagi percaya hantu. Lagipula saya sudah terlalu lama berpikir dengan logika. Logika berpikir yang semestinya digunakan oleh pengguna jalan lain apabila hendak berkendara.

Pernah suatu ketika, saya taruhan dengan seorang teman. Dia optimis dan yakin bahwa dengan menggunakan helm-pun seseorang bisa menjadi korban di Jalan Pahlawan. Praktis saya tidak sepakat dengan kondisi tersebut. Memang, dengan menggunakan helm tidak bisa menjadi patokan seseorang apakah dia bisa lolos dari maut atau tidak. Karena sejatinya yang menjadi penyebab kecelakaan itu sendiri ada dua faktor. Pertama, bagaimana seseorang mendisiplinkan diri dalam berkendara dan yang kedua adalah karena faktor ketidakberuntungan. Untuk faktor yang kedua ini, tak ada satupun manusia yang bisa mengaturnya. Namun, faktor pertama bisa menjadi katalisator seseorang supaya terhindar dari ketidakberuntungan tersebut. Jadi sesungguhnya, setiap manusia masih punya kesempatan untuk terhindar dari kecelakaan lalu lintas kalau saja mau mematuhi tata tertib berkendara.

Dan sekitar dua bulanan semenjak pertaruhan, tak pernah sekalipun terjadi kecelakaan. Jalan Pahlawan seakan-akan mendengar atas apa yang kami obrolkan. Sesuai perjanjian, selang dua bulan, bila tidak terjadi kecelakaan, saya dalam hal ini yang dimenangkan. Satu minggu berturut-turut, saya dirajakan. Antar jemput ke tempat kerjaan. Makan siang dan makan malam selalu di rumah makan tanpa mengeluarkan biaya tagihan pembayaran. Dan sebuah helm standar warna merah yang sengaja dihadiahkan kepada saya sebagai bentuk ironi dalam menyigapi apa yang telah kami lakukan selama ini. Kebetulan sekali, helm saya kacanya sudah tidak berfungsi. Hampir lepas. Yang terpaksa saya tempeli lakban agar tidak melorot. Janji berulang kali dalam diri untuk membeli helm rupanya didengar oleh teman saya. “Rejeki anak soleh,” celetuk dia.

Membahas Jalan Pahlawan memang tidak akan pernah ada ujungnya. Terlebih kalau disangkutpautkan dengan urusan nyawa. Seakan-akan bukan Jalan Pahlawan namanya kalau tidak memakan korban. Seperti kejadian baru-baru ini…

Malam itu…

Saya kebetulan mendapat tugas untuk membeli nasi goreng buat makan malam kami sekeluarga. Seperti layaknya keluarga harmonis yang lain, kami mempunyai langganan penjual nasi goreng yang menurut kami enak dan layak dijadikan rujukan. Sebenarnya jarak antara rumah dengan penjual nasi goreng tersebut dekat, hanya melewati sepanjang Jalan Pahlawan. Tidak membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit untuk bisa sampai ke lokasi. Namun yang menjadikan lama malam itu adalah, helm merah saya hilang. Entah siapa yang mengambil. Sempat marah dan mogok jalan. Ayah menyarankan tidak perlu memakai helm, sementara ibu marah-marah dan tidak setuju kalau saya tidak menggunakan helm. Namun kali ini, ego saya menang. Sebagai bentuk bukti kedangkalan otak saya dalam pertarungan nurani. Emosi saya membuncah. Memilih membawa sepeda motor tanpa menggunakan helm. Dongkol mendalam dengan dihiasi sumpah serapah kepada siapapun yang telah mengambil helm kesayangan saya. Kalau bukan mas Abbas pasti mbak Susi. Siapa lagi!

Motor saya hidupkan. Sengaja saya starter kencang-kencang, sebagai bukti bahwa emosi menguasai diri. Ayah tak peduli. Ibu hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan anak bungsunya.

Di sepanjang jalan saya mengebut tanpa alasan. Bayangan akan hantu-hantu gentayangan tidak terpikirkan. Yang menyeruak hanya rasa kesal yang teramat sangat. Sesekali saya berteriak. Berharap kekesalan ini terhempas bersama hembusan angin malam yang saya terabas tanpa batas.

Konsentrasi bukan pada bagaimana saya bisa sampai ke tujuan. Hanya terfokus pada bagaimana saya bisa mengebut penuh sahaja. Berharap punya kuasa agar jalanan tunduk pada putra dunia yang dirundung dendam. Memang ini masalah sepele. Hanya karena helm yang entah dibawa siapa. Sehingga bisa dengan sekejap mengubah karakter seseorang. Karakter saya. Malam itu menjadi malam yang terpanjang diantara malam-malam saya yang lain.

Waktu pun berlalu. Penguasa semesta pun tahu bahwa kini saya bukan lagi sang pemberang yang tak tahu malu. Saya bukan lagi yang seperti dulu. Yang terlalu sering membicarakan hantu dan penampakan tentara jepang di sepanjang Jalan Pahlawan. yang sering membicarakan kematian dan ketidakberuntungan. Yang kini ngilu dalam rindu sebagai wujud dari manusia utuh yang dulu pernah berjanji untuk selalu patuh dan peduli terhadap nyawa yang hanya satu ini.

Kini, saya lah bagian dari cerita itu. Saya lah bagian dari kematian itu. Bagian dari ketidakberuntungan itu. Bagian dari jiwa yang pernah membuncah oleh emosi sekilas namun berakibat kekal.

Kabar ceritanya, tubuh saya ditemukan terkapar tanpa nyawa di tengah jalan dengan kondisi kepala pecah. Tidak ada yang mengetahui pasti apa penyebabnya. Ada yang bilang tabrak lari. Namun banyak yang bilang, saya mati karena ditabrak truk gandeng yang memuat biji besi.

“Kalau sudah begini, apakah kamu masih terus menerus menyalahkan kami?”

Gresik, 28 Oktober 2015

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Film ::: Night Flight (2014)

•October 26, 2015 • Leave a Comment

Mendengar kata film Korea, yang muncul dibenak gue adalah “indah”. Itu selalu. Dari yang genre komedi romantis hingga yang epic kolosal history. Semuanya dibuat dengan kesungguhan dan bertanggung jawab. Termasuk ketika membingkai sebuah film drama gay yang sarat dengan isu bullying. Dari kacamata gue sebagai orang yang sedikit paham soal LGBT, deskripsi sosial tentang karakteristik gay secara umum tergambarkan dengan apik tanpa ada sentuhan berlebihan. Polesan apa adanya menjadikan film ini nikmat untuk dicermati tanpa ada sangkalan di sepanjang film. Dan gue nyaman mengikuti perjalanan kisah Yong-ju shin (Kwak Si-yang). Karakter utama dalam film Night Flight, besutan sutradara Leesong Hee-il.

Kwak Si-yang yang berperan sebagai Yong-ju shin

Yong-ju adalah siswa SMU yang lumayan berprestasi. Tipikal gay-gay yang banyak kita jumpai (memang sih tidak ada bukti data untuk hal ini, tapi pengalaman dan kenyataan berkata demikian). Kebetulan dia adalah gay yang masih discreet. Sudah menjadi tradisi, bahwa menjadi gay, yang notabene spontanitas dilabeli banci (dicap feminin walau gak semua gay itu feminin) pasti akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Istilah itu kita familiar menyebutnya bullying. Berhubung Yong-ju menyimpan rahasia itu rapat-rapat sehingga dia aman dari perlakuan itu. Namun tidak bagi sekawan teman dia, gi-Taek ( jun-ha Choi) yang menjadi bulan-bulanan geng berandal sekolah mereka yang dipimpin oleh Gi-Woong (Jae-joon Lee). Bertiga sebenernya telah diikat oleh masa lalu. Namun seiring waktu, pribadi-pribadi itu kini tumbuh menjadi sosok yang berbeda satu sama lain sesuai dengan jati diri yang dicarinya.

Yong-ju dibesarkan oleh ibunya seorang diri. Kedekatan ibu dan anak itu sangat begitu kompak, termasuk pada saat sang ibu hendak mencari pasangan baru untuk menemani hidupnya, yong-ju pun menanggapinya dengan santai. Sama-sama memiliki urusan tapi tidak larut untuk mencampuri urusan satu sama lain. Namun bagi yong-ju, ke-gay-annya bukanlah barang bagus yang bisa dijadikan bahan untuk sebuah obrolan ibu dan anak.

Terlebih, ketika yong-ju didekatkan oleh keadaan terhadap sosok gi-woong. Teman sekelasnya yang saat SMP dulu adalah juga teman satu sekolah. Rasa itu masih tetap sama. Yong-ju semakin mengagumi apapun yang nampak dari sosok Gi-woong. Keangkuhan gi-woong, dinginnya gi-woong hingga semenyebalkannya gi-woong, yong-ju bisa menerimanya dengan suka cita. Hingga dia merasa, bahwa apa yang dia sebut cinta sesadar-sadarnya adalah sekedar bertepuk sebelah tangan. Yong-ju beranggapan bahwa gi-woong kenyataannya bukanlah seperti apa yang dia harapkan. Pupus? Tentu tidak bagi yong-ju. Toh cinta tak harus memiliki, walau sebenernya sakitnya tuh disini (nunjuk dada sebelah kiri).Hingga konflik muncul saat gi-woong yang sedang dikeroyok segerombolan orang dan bermaksud melarikan diri dari kejaran mereka, secara kebetulan langsung merampas sepeda milik yong-ju yang sedang tidak sengaja lewat di lokasi tersebut.

Karena rasa suka, yong-ju semakin larut dalam hubungan yang tidak terjelaskan oleh kata-kata. Di satu sisi, yong-ju senang akhirnya dia punya alasan untuk mendekati Gi-woong, namun di sisi lain dekat dengan Gi-woong berarti dekat dengan masalah. Namun yong-ju memilih opsi pertama. Peduli setan, yang penting bisa dekat Gi-woong, bahagia rasanya. Ada perasaan suka, senang, bahagia dan juga kesal. Semua rasa itu melebur dalam satu ikatan cinta. Yang pada akhirnya gi-woong curiga dan mempertanyakan itu semua kepada yong-ju.

Dan, yong-ju hanya menjawabnya dengan satu ciuman saja. sebuah kejujuran yang patut diacungi jempol. Meskipun dia sadar bahwa bayaran dari jawaban itu adalah pukulan bertubi-tubi. Namun respon yang diberikan gi-woong tidak berarti apa-apa baginya, yong-ju hanya berpesan “jangan bilang siapa-siapa….” Sudah barang tentu, Gi-woong tak bisa menerima perlakuan Yong-Ju. Bagaimanapun juga, ada rasa kesal yang tidak bisa diterimanya. Karena dalam diri Gi-woong masih ada naluri bahwa lelaki tidak lah pantas untuk dicintai oleh lelaki. Atau Gi-woong punyan alasan lain kenapa dia menolak sikap “manis” Yong-ju itu.


 Semenjak kejadian itu, kedekatan mereka semakin “intim”. Dan seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, bahwa dengan keinginan mereka berdua, tak ayal masalah pun datang. Banyak pertanyaan yang muncul. Apakah gi-woong pada akhirnya akan menerima cinta yong-ju. Bagaimana dengan teman-teman mereka? Apakah berakhir bahagia? Ataukah suram dan penuh derita? Seperti yang biasa digambarkan di film-film tema gay kapan tahun…

Sampai kiamat pun, film tema LGBT tak kan ada habisnya. Setelah berbulan-bulan, akhirnya gue bisa juga menonton film ini. Tak ada rekomendasi, hanya ketika browsing di internet terkait, film tema gay, gue nemu judul film ini. Dan kemudian membuka youtube untuk melihat trailer-nya. Dan hasilnya pun cukup promising. Apalagi, si sutradara nya sendiri adalah si Leesong hee-il, yang pernah sukses dengan No Regret-nya (dan gue baru nyadar kalo belum nulis reviewnya).

Sebenernya, ketika menonton film ini, yang gue pikirkan cuman satu. Gue pernah ada di posisi mereka. Mereka dalam hal ini beberapa karakter yang dimunculkan. Mulai dari si yong-ju yang menaruh hati pada idamannya namun tak cukup keberanian untuk mengungkapkan karena alasan yang tidak mungkin. Kemudian merasa ada di posisi gi-taek, yang mana sering menjadi bulan-bulanan aksi bullying oleh geng berandal sekolahan. Intinya, garis cerita yang digambarkan di film ini begitu nyata. Karena gue pun pernah menjadi bagian dari cerita yang disuguhkan tersebut.

Melihat penampilan cast-cast yang enak dilihat (dinikmati), dengan dialog-dialog sederhana namun penuh makna. Ditambah pula dengan tone film yang kuat mengikuti rasa disetiap potongan adegan, Menjadikan film ini kuat dalam penceritaan. Mengingat film ini dirilis tahun 2014, agak sedikit tersenyum ketika ada produk kekinian yang dimunculkan. Yaitu gay app, j*****d semakin menambah realita yang dipaparkan, walaupun kemunculan applikasi ini hanya sekilas. Namun kehadirannya mampu mewakili gaya hidup gay sekarang. Gay mana sih yang gak punya aplikasi pertemanan sesama gay? Kalo pun ada gay yang gak punya, itu pun ada alasannya bukan….?

Tentang alur cerita. Mendapati bahwa penulis cerita adalah sang sutradara juga, semakin memperkuat dugaan gue, bahwa bagaimanapun juga pengalaman adalah guru yang paling menggigit. Menulis, mengedit dan menyutradarai sekaligus memang selalu bisa menjadi jaminan untuk hasil film yang bagus. Karena yang mengetahui rasa dan cerita untuk film itu sendiri adalah sang penulis. Sehingga akan semakin dimudahkan apabila seorang film maker berada pada ketiga divisi tersebut. Hal ini mengingatkan gue pada sosok Lucky Kuswandi yang menggarap film Selamat Pagi, Malam (2014).

Salah satu adegan bullying kekerasan fisik.

Bullying. Film ini sarat dengan isu bullying. Kalau mau dikata, jika mencari film dengan tema bullying, film ini adalah film yang cocok dan pas untuk menjawab itu. Bagaimana penggambaran sosok korban bullying. Kenapa alasan seseorang melakukan tindakan bully, hingga apa akibatnya jika seseorang terus-terusan menjadi korban dan pelaku bullying. Semua digambarkan detail. Bagaimana pihak sekolah pun punya andil, kenapa kasus bullying itu muncul. Pembiaran-pembiaran kasus bullying karena atas dasar korban memang layak untuk dibully juga digambarkan dalam film ini. Bagusnya lagi (SPOILER ALERT!!!!) disini tokoh utama diceritakan mau untuk bangkit dan gak mau terus-terusan menjadi korban. Walaupun pihak sekolah adalah pihak ketiga dalam rantai kasus bullying, dalam film ini pun digambarkan jelas, bahwa masih banyak yang tidak paham soal dampak dari bullying itu sendiri. Bullying masih jauh dibawah yang namanya harga diri dan identitas.


  
  
Dan yang lebih membahagiakan lagi, film ini menye-menye pada moment dan timing yang pas, sehingga kelas menye-menye-nya gak berlebihan. Ada banyak scene-scene kesukaan yang mengantri di benak gue. Adegan neduh nunggu hujan reda masih belum seberapa dibanding scene yang menjadi pamungkas di film ini. Kalian pasti paham scene yang mana yang gue maksud kalau sudah menonton film ini…. Salut untuk cast and crew film ini. “Aku sangat kesepian….” Kalimat terakhir yang muncul di film ini yang langsung mak jleeb…..

4.5 / 5 stars

Menjadi (bagian dari) Indonesia

•October 16, 2015 • Leave a Comment

Satu hal setelah kepulangan dari Jakarta, bingung. Entah apa yang harus gue lakukan. Bingung memulai dari mana. Tidak ada macam pekerjaan yang related dengan skill yang gue miliki, yaitu bermimpi dan berimajinasi. Betul banget. Sesuatu yang punya kaitannya dengan kreativitas. Menciptakan maha karya atas dasar khayalan. Sudah lah. Yang pasti saat itu, gue, terbengkalai. Mungkin lebih tepatnya merestorasi bodi. Mengistirahatkan badan dari berbagai macam penyakit. Ya, dulu selama stay di Jakarta, pola hidup yang gue jalanin alangkah menyeramkannya. Sehingga tidak bisa dipungkiri, berbagai macam penyakit pun ngantre di dalam tubuh ini untuk di-detect intensitas keberadaannya. Masih dalam level aman atau sudah mencapai level kritis. Alhasil, hal kesehatan ini lah yang pada akhirnya membawa tubuh gue ini terbang pulang ke Gresik.

Pada suatu ketika disaat kebosanan melanda. Tentu saja ditengah-tengah rutinitas yang itu-itu saja, gue melihat ada informasi terkait open recruitment. Relawan dokumentator untuk Kelas Inspirasi Gresik. Dan ditambah pula, ada dua pilihan lokasi, yaitu Gresik yang masih dilingkup pulau Jawa dan Pulau Bawean yang masih termasuk bagian dari Gresik juga. Tertarik? Tentu saja.

Bersifat sukarela. Yang otomatis tidak ada bayaran untuk itu semua. Malah-malah yang ada, kita yang bayar untuk keperluan ini dan itu. Tentu saja, untuk nyeberang ke pulau Bawean tidak lah gratis.

Langsung saja mendaftar dengan mengisi form pendaftaran. Memilih mendokumentasikan lewat foto dan video. Dua hal yang berkaitan tapi punya cara sendiri sendiri untuk mengeksekusinya. Setelah itu tinggal menunggu informasi pemberitahuan.

Tanggal pelaksanaan 12 Oktober 2015. Kalau tidak salah ingat, pengumuman terkait siapa saja yang bisa ikutan berpartisipasi dalam program Kelas Inspirasi (KI) ini adalah tanggal 30 September 2015. Dan nama gue muncul di daftar relawan dokumentator untuk wilayah Pulau Bawean.

Briefing KI dilaksanakan tanggal 4 Oktober, hari minggu di kantor Dinas Pendidikan kab. Gresik, yang lokasinya bersebelahan dengan smp gue dulu. Malah sempat nyasar masuk ke smp gue. Alhasil terlihat cengok dan beringsut malu undur diri selagi pura-pura sibuk nelpon agar tidak sepenuhnya terpancar aura kemaluannya.

IMG_5009 IMG_5010 IMG_5006 IMG_5011 IMG_5021

Dan saat briefing pun, tidak terlalu berjalan sesuai rencana panitia. Ada kekosongan ruang. Dan kadar kebosanan yang tertutupi dengan rasa “gak enakan” dari para undangan. Ice breaking yang membuat jantung gue berdebar. Bagaimana tidak, kami para peserta diajak bersimulasi bagai kapal. Dan kami semua didaulat untuk saling bergandengan tangan. Alamak, awkward-nya gak ketulungan. Bersebelah dengan cowok-cowok yang lumayan kece. Dan masih agak malu-malu bergandengan tangan. Gue sih biasa aja. Tapi masih ada sedikit rasa bersalah. Dan benar saja, tetiba, cewek depan kursi gue menoleh kebelakang dan langsung nyeletuk ke gue (lebih tepatnya kami, para cowok yang bergandengan tangan), “hiiiih mas-nya gak normal, masak gandengan tangan….”

Rasanya pengen gue jambak-jambak tuh cewek. Gue ludahin bertubi-tubi. Malu sih nggak, cuman kesel aja. Masak gue dibilang gak normal. Masak cowok-sama-cowok bergandengan tangan itu gak normal? Sementara cewek-sama-cewek bergandengan tangan itu normal. Ini kan gak adil. Terlepas dari orientasi seksual apapun. Normal gak normal itu bukan dilihat dari dengan siapa kita bergandengan tangan kan? Tapi menurut gue, normal gak normal itu bisa dilihat bagaimana cara berpikir orang tersebut terhadap kita. Tanpa harus menilai kita. Bisa memahami kita tanpa harus menghakimi kita. Dari situlah normal dan gak normal bisa bermula.

Kembali ke kasus bergandengan tangan. Akhirnya kelar dengan sendirinya. Gue ladenin pun percuma. Musti diadakan kelas gender yang bisa menjadikan cewek tersebut nyadar. Hmmm di Gresik masih jarang kayaknya, yang punya pikiran terbuka. Open minded. Tentang segala hal tentu saja.

Semangat untuk mengikuti program ini masih membara. Setelah prosesi briefing kelar, dari kelompok Pulau Bawean pun dibagi menjadi 4 wilayah SD. Dan gue mendapat bagian untuk menjadi tim yang akan terjun di SDN Pudakit Barat, Sangkapura Bawean.

Hari-hari menjelang hari H, diliputi perasaan gelisah. Mengingat jadwal keberangkatan kapal dari pelabuhan gresik yang sempat ditutup lantaran tingginya gelombang. Sehingga membuat tim Bawean membuat rencana alternatif dari berbagai kemungkinan apabila misi nyeberang ke Bawean gagal. Bergabung dengan tim gresik tentu saja. Namun masih ada doa dan harapan yang kuat agar tujuan ke Bawean tidak berhenti di tengah jalan.

IMG_5103Sehari sebelum keberangkatan, ada pemberitahuan bahwa acara ke Bawean ditiadakan. Namun berselang dua jam, ada solusi lain yang bisa menjadi alternatif kami supaya bisa tetap menyeberang ke Bawean. Kebetulan sekali pelabuhan Paciran Lamongan masih ada kapal Giliyang yang berangkat. Alhasil, jadi lah kami semua berangkat dari ngumpul di Alun-alun pendopo Gresik jam 4 sore kemudian menuju ke pelabuhan Paciran dengan menggunakan dua angkot, yang alhamdulillah sampai disama jam setengah delapan malam. Sementara kapal sudah harus siap berangkat jam setengah sembilan. Dan berangkatlah kami menuju pulau Bawean pada hari minggu malam. Dengan prediksi sampai di bawean jam 5-6 pagi, dan langsung gerak jam 9-nya.

Mungkin penting gak penting, pada saat di kapal, kondisi gak asik banget. Mabuk semabuk mabuknya. Jackpot. Tak tersisa. Beruntung bisa tidur pada akhirnya. Ada sekitar 16 orang yang berangkat. Dan tidak semuanya berasal dari Gresik. No problem. Justru gue suka sama yang gak kenal sama sekali. Daripada sama yang udah kenal.

Sesampainya di Bawean, langsung dibondong ke rumah Kepala Sekolah dengan beramai-ramai naik mobil pickup bertudung senja. Kondisi dan situasi gue saat itu masih nol koma, jadi belum genap antara otak dan jiwa raga. Pasrah gembira karena sudah mencium aroma tanah daratan.

Beberapa diantara mereka terlihat sangat Curious dengan penampilan gue. Seorang cowok dengan kuku berkutek corak heinna yang ditambahi polish nail mengkilap dengan memakai syal yang sesekali menjadi kerudung. Yah. Mereka hanya terlihat penasaran tanpa sedikitpun ada usaha untuk mempertanyakan. Biar saja. Gue emang sengaja untuk mengajarkan kepada mereka bagaimana kah sebuah ekspresi jender itu bekerja….

Sesampainya di Rumah Kepala Sekolah, yang kebetulan namanya sama dengan nama gue, semakin membuat takjub tatkala, pak Imam ini dulunya pernah tinggal di kampung dimana sekarang gue tinggal menjadikan kondisi kebetulan ini sangat istimewa sekali. Dalam benak gue berkata, suatu saat gue akan kembali kesini.

foto bersama pak kepala sekolah menjelang pamit untuk hijrah ke pulau gili.

Sungguh tuan rumah yang baik hati dan ramah pula. Rumahnya yang asri, sudah terhidang jamuan/suguhan jajanan penggoyang lidah. Alamak baik sekali pak Imam ini. Langsung dihadapkan pada sarapan pagi. Pecel dan ikan laut pun sudah tersaji. Alhamdulillah.

Perkiraan gue meleset. Ternyata di rumah pak Imam ada akses wifi. Walaupun tidak butuh-butuh banget, tetapi setidaknya masih bisa berfungsi apabila ada apa-apa.

Setelah mandi dan sarapan, kami pun bergegas ke lokasi sekolah. SDN Pudakit Barat. Memang gak begitu jauh dari rumah Pak Imam. Sekitar 5 menit dengan naik motor. Oh iya. Yang bikin sedih adalah, jarak antara lokasi satu dengan lokasi lain lumayan jauh. Dan sangat tidak bersahabat bagi pendatang yang doyan jalan kaki. Karena akan banyak memakan energi dan waktu. Tetapi untunglah, gue, yang tidak begitu mahir membawa motor, berada dalam tim yang terdiri orang-orang yang baik hati pula. Jadi tidak ada kendala yang gue temui terkait masalah transportasi. Dengan diantar oleh beberpa orang dari pihak sekolahan, kami ber-6 pun bersemangat menuju lokasi eksekusi.

Sampai di lokasi, kami pun berkenalan dan beradaptasi dengan SDN setempat. Keramahan yang kami terima. Senyum penasaran yang ditebarkan semakin menjadikan gue berasa kayak artis. #halah. Berkenalan dengan guru-guru sekaligus siswa-siswinya.

Benak gue, kalo melihat kondisi sekolahannya, katanya sekolah ini lumayan bisa dibilang paling bagus diantara sekolah dasar yang lain di pulau Bawean ini, lhaa apa kabar sekolahan sd yang lain ya???

KIG28

KIG13

Setelah beramah tamah di ruang guru, kami pun segera beranjak memulai kelasnya. Termasuk diantaranya dengan inspirator “dadakan” dari instansi Koramil dan BMKG. Dua-duanya bernama Usman. Well, karena sengaja memang mengambil relawan foto dan video dokumentasi, alhasil sudah menjadi konsekuensi untuk menemukan rasa capek diujung kegiatan. Bersyukur sih pada saat kegiatan, yang terasa hanya semangat yang menggebu-gebu hingga di akhir acara. Selebihnya tepar yang tidak terlalu mendalam.

Dan voillaaa…. Semuanya berjalan dengan sukses. Semoga. Karena ada kewajiban yang terlewat. Yaitu mengambil gambar foto inspirator setengah badan posisi diam. Duo Usman kelewatan tidak gue foto… Hahahahahaa… Gak tau deh disiasati dengan cara apa nih…

Setelah sehari menginspirasi, berikutnya adalah memanjakan diri. Jalan-jalan ke tempat yang menjanjikan untuk dipuji-puja sebagai lokasi yang indah.

IMG_5123 IMG_5127 IMG_5124 IMG_5130 IMG_5131 IMG_5140 IMG_5160 IMG_5166 IMG_5168 IMG_5169 IMG_5172 IMG_5180 IMG_5195Sore hari setelah berbagi inspirasi, kami berenam menuju Tanjung Ga’ang. Sebuah lokasi yang banyak yang bilang mirip tanah lot di Bali. Dan anjuuuiiiiiinnnk banget, emang mirip malah lebih syahdu yang ini dan lebih khusyuk menikmatinya. Walau sih kita berenam ketinggalan sunset nya, tapi gue bersyukur pernah tahu ada lokasi seperti tempat yang gue kunjungi ini. Setelah perjalannya menguras nyali dan energi, karena ketika waktu balik, suasana sudah gelap gulita, dan agak menyeramkan memang. Gak bisa membayangkan kalo semisal gue dibuang sendirian di tempat itu. Alamaak….

Setelah balik ke homestay, kami pun beristirahat. Karena besok jam 8 pm, kita sudah siap-siap menuju ke pamena untuk disambung ke Gili. Padahal ada orkes Moneta yang tampil di salah satu hajatan warga Bawean. Sudah bukan barang asing lagi, bahwa pertunjukan om. Moneta menjadi primadona di P. Bawean. Well, lupakan orkes dangdutnya. Sudah saatnya teparria dan memeluk guling. Besok masih ada kejutan lain.

…..

Bangun pun jam 6 pagi. Dimana yang lain sudah seger, gue pun juga seger. Bagaimana gak seger, tidur dengan dihiasi angin pagi yang silir semilir. Malas rasa ini untuk mandi. Kabarnya sih, siang harinya kita bakal berkumpul dengan relawan yang lainnya dan bermain pasir di pulau gili. Hiwauww….. Tapi sebelumnya, kita sepakat mengunjungi penangkaran Rusa.

IMG_5199 IMG_5202 IMG_5221 IMG_5230 IMG_5257

Setelah mengunjungi rusa Bawean, berkemas lah kita, berpamitan sama induk semang, betapa baiknya mereka memberikan fasilitas yang melebihi hotel kelas lima pun. Yaitu keramahan sebuah makna keluarga. Yang selalu mengingatkan gue bahwa sejauh apapun kita melangkah, keluarga lah yang paling utama…

Menggunakan mobil avanza, kami menuju pamena. Bertemu dengan relawan lain yang juga sudah menunggu. Dan selanjutnya kita pun meluncur ke dermaga, naik kapal klothok sekitar setengah jam. Kurang lebih sih.

IMG_5314

Daaaaaaan……. Mendarat lah gue…. Bersama yang laennya.

IMG_5317 IMG_5326 IMG_5327 IMG_5328 IMG_5329 IMG_5336

Di Pulau gili ada ketenangan. Ada kegundahan. Ada kegalauan. Ada keraguan. Ada apa saja yang membuat gue selalu bertanya-tanya. Kenapa baru sekarang gue bersambang ke pulau ini??? WHY???

sunset dari view rumah warga di pulau Gili

tak banyak yang bisa gue ceritakan di pulau ini selain wow dan wow….

Hingga akhirnya, semua pun diusaikan. Selalu ada akhir untuk sebuah awal. Namun selalu ada kelanjutan untuk sebuah kejutan. Karena hidup tidak melulu berisi semangat dan kerja keras. Selalu disisipi impian dan harapan. Patutlah berbangga gue dalam benak ini, bahwa masih bisa menemukan kebahagiaan walau tak harus menukar rupiah. Tak perlu mencincang lidah untuk lihai berbahasa. Bawean, gue akan kembali dengan maksud dan tujuan yang berbeda tentu saja.

IMG_5369

#menjadiBawean

Catatan kriminal suci

•October 1, 2015 • Leave a Comment

Well…. Sekian bulan, entah berapa bulan… Hmmm terhitung dari bulan Juni, hingga gue menulis di blog ini…. Absen. Ya, gue absen menulis apapun di blog ini. Entah itu review film, artikel klenik, cercaan pada sebuah peristiwa yang layak dikritisi hingga sastra picisan yang hanya ditulis bila sedang kambuh feel menulisnya. 

Masih sering bingung. Fakta pertama, sekembalinya dari Jakarta, status gue masih perawan ting-ting, belum menjamah profesi yang seharusnya sudah gue jamah jauh jauh hari. Nyatanya, pekerjaan yang biasa gue lakoni di Jakarta masih awam untuk gue jadikan andalan. Dan itu sangat pedih dan menyakitkan. Sungguh… Itu pedih. Tapi namanya juga gue, sepedih-pedihnya perasaan, harus selalu dibawa senang. Termasuk membuat orang jadi senang pula. Bukan karena bakat gue sebagai lelaki penghibur yang terlalu kuat, melainkan karena saya menganggap bahwa senang itu bahagia, bahagia itu awet muda. Jadi kalau mau awet muda, bersenang-senanglah.

Tak punya catatan kriminal. Di Gresik lempeng-lempeng saja. Itu itu saja. Membosankan? Banget… Nget. 

Mungkin gue merasa terlalu banyak rencana dan lebih banyak gegabah. Jatuhnya pun hanya mimpi-mimpi yang lewat saja. Seperti halnya, rencana membuka bisnis clothing, dengan merek yang sudah gue siapkan dari Jakarta, eh, ujung-ujungnya, malah gak ada jejak. Hilang ditelan iler. Gue akui, moment pulang kampung ini lebih banyak berisi proses healing dari penjara pesakitan selama di Jakarta. Menjadi korban kekejaman hedonitas dan sosialita kelas dagu ngangkat. Giliran sudah sekarat, baru sadar, bahwa kontrol atas tubuh (baca: kesehatan jiwa dan raga) tidak terkendali. Apa saja dilahap mentah-mentah dan serampangan. Apa saja masuk. Ban dalam mobil pun kalau dimakan pasti gue makan saat itu. (Seperti biasanya, penyesalan selalu datang terlambat…. Gak pernah datang diawal keluh kesah).

Balik lagi soal cita-cita, siapa sih orang yang gak punya cita-cita atau angan-angan di dunia ini? Semua pasti punya. Termasuk gue. Dan paling membahagiakan itu, andai kata cita-cita yang sudah kita impikan dari awal rupa-rupanya terkabul karena niat dan kerja keras. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang, sampai sejauh mana level atau kadar cita-cita kita? Apakah masih dalam batas awal, atau sudah diambang keberhasilan… Syukur-syukur sudah berpindah cita-cita yang lainnya. Bersyukur tentu saja.

Kadang yang menjadikan cita-cita itu bengal untuk menghampiri karena kita terlalu memberikan persyaratan yang terlalu berat. Misalkan saja, cita-cita yang kadang diluar nalar manusia kebanyakan. Kalo gue merasakannya, disaat gue masih SD, dan cita-cita gue membunuhi semua orang-orang yang telah membully gue. Walaupun dulu definisi membunuh itu harus bagaimana saja masih belum jelas. Yang jelas mengeluarkan emosi di diri yang membuncah dengan kalimat, “Akan kubunuh kalian” seakan memberikan suntikan kekuatan. Namun dulu masih belum kenal apa itu HAM, apa itu keadilan. Yang penting hajar aja dulu, sebelum “kriminal” nya sudah tidak musim lagi. An sudah lah, akan kembali kelam jika gue menceritakan pengalaman semasa kecil. Terlalu pahit untuk dijadikan pembangkit gairah.

Rupa-rupanya sudah mulai hilang konsep nih. Lajur kriminalitas yang dulu akrab dengan gue mulai pudar. Dengan berbekal pengalaman masa lalu, gue sudah bisa sedikit menyimpulkan. 

Terlalu banyak tahu orang-orangnya, hingga yang tidak tahu menjadi tahu…

Mungkin kedepannya, gue akan lebih fokus ke videographer….videographer….VIDEOGRAPHER.. And the one and onli, jadi begini ceritanya….

  

Rahasia

•July 30, 2015 • Leave a Comment

I LOVE YOU MOM… kalimat tersebut yang pantas untuk mengawali tulisan gue kali inI……..

Ada apa dengan gue? Mendadak ai lov yu mom… Bukan apa-apa. Tak ada faktor khusus. Hanya karena teringat akan banyak hal yang punya korelasi dengan andil beliau. Apalah siapa gue ini diartikan untuk sebanding dengan jasa beliau terhadap gue. Nothing. Gak ada apa-apanya.

Di usia yang sudah tidak muda lagi, gue ngerasakan hal-hal yang mungkin berdampak pada konstruksi pemikiran gue yang agak ruwet sedikit. Masih ada sisa rasa perasaan bersalah karena dulu-dulu-nya gue pernah punya trauma yang tak seorang pun tahu apa itu, tidak juga disini. Merahasiakan dari semuanya termasuk dari beliau sungguh-sungguh melelahkan. 

Masa Kanak-kanak tidak lebih sebagai masa penggemblengan gue untuk menjadi sosok yang tangguh. Yang prosesnya ternyata kalo gue itung-itung membutuhkan waktu 12 tahun. SD-SMP-STM…. TAPI TUNGGU DULU… Jangan disalah artikan penggemblengan model apa yaa… BULLY… Titik.

Beberapa waktu yang lalu, gue sempat ngobrol ngalur ngidul sama ibuk. Beliau cerita banyak hal. Namun kebanyakan berbagi cerita tentang masa lalu (kecil) nya. Dan juga saat-saat menjalani biduk rumah tangga dengan suaminya (bapak gue). Ternyata banyak fakta yang terungkap. Sehingga gue terpaksa mengambil kesimpulan, mengapa dia bisa menjadi ibuk gue seperti yang sekarang. Masa kecilnya bener-bener suram. Semakin suram ketika dia dijodohkan (awal)nya dengan bapak gue. Bagaimana dia harus survive menghadapi model-model karakter baru di dalam hidupnya. Terutama menghadapi mertua dan ipar-iparnya.

Sempat kesal dan gereget mendengar ceritanya. Dari awal sampe akhir gue tak mendengar perubahan nada bercerita. Sepertinya ibuk sudah terbiasa dengan kesedihan yang telah diungkapkan kepada gue. Beliau malah menasehati gue supaya tidak terlalu vokal untuk menghadapi dedemitism yang menjadi faham dari dinasti asal bapak gue.

Well, hal yang patut gue syukuri, akhirnya ibuk bisa bercerita. Sempat dia berkata, bahwa tak pernah beliau dengan sesiapapun anak-nya menceritakan kisah kecutnya tersebut. 

Inilah, kadang kenakalan beliau sampai sekarang masih belum bisa gue terima, tetapi setelah mendengar kisah-kisah super-nya, gue jadi sadar. Setiap manusia punya cara sendiri-sendiri untuk menjadi kuat. Dan di balik itu semua, ada rahasia besar yang menanti gue. Sebuah rahasia.

  

Refleksi (bukan semacam pijat)

•July 18, 2015 • Leave a Comment

setelah bulan itu (Juni) saya beranjak meninggalkan Jakarta, menuju kampung halaman yang tidak layak disebut mudik. Lebih tepatnya pulang kampung tanpa harus kembali lagi ke Jakarta. Keputusan sulit namun harus ditempuh. 

Sedih sih. Namun gak harus sambil ditangisi pula. Terlalu manis kalau dilema kali ini harus dibumbui dengan drama tangisan tante Sandora. Tidak ada tangis-tangisan. Tidak ada mewek-mewekan. Yang ada K Z L… Kezeeeel

Pertanyaannya, kenapa bisa kesel? Ya selalu ada alasan untuk kita menjawab sebuah pertanyaan atas kekesalan yang kita alami. Hmmm kita atau saya (seorang) ?…

Entah kenapa berat bagi saya untuk bisa berbagi cerita terkait alasan-alasan kenapa saya memutuskan pindah raga ke tanah Jawi. BANYAK FAKTOR SAY!!!! Apa perlu saya bikin daftar alasan-alasan terkait mengapa saya pindah pulang kampung. Tapi sejenak saya berpikir dari lubuk hati terdalam, ada suara kecil di batin saya untuk memilih berdiam tanpa mengurusi keimanan/ keyakinan yang berkaitan dengan #mudik

TIDAK

Kayaknya saya memang harus menyimpan rapat-rapat informasi ini. #hasilrefleksimalamini #gagalberbagi #nunggukuatmental #masih musimsensitif

Anonymous | Shopping

•April 28, 2015 • Leave a Comment

Ceritanya nih, habis ngobrol hancur sama temen gue yang masih berprinsip bahwa membelanjakan sesuatu itu hanya berdasarkan kebutuhan saja. Hal-hal di luar kebutuhan yang kiranya tidak terlalu penting sebaiknya tidak perlu juga dinomorsatukan. Itu berbeda sedikit dengan apa yang selama ini gue prinsipkan. kalo bagi gue, selama barang yang gak penting itu ternyata bisa “menyelamatkan” kebutuhan atas dasar, siapa tahu nanti butuh, jadinya gue fine-fine ajah untuk membeli barang tersebut.

Tapi ganjaran dari prinsip yang gue pake adalah, banyak barang numpuk yang menunggu untuk dibutuhkan. di lain sisi makan tempat dan keburu rusak sebelum dipakai, di lain sisi akan ada moment “AHA” yang menyelamatkan situasi gue yang tidak kondusif.

Belanja atau shopping sangat berbeda konteksnya dengan hanya sekedar window shopping aka cuci mata. Namun banyak pengalaman yang gue alami, bahwa dua kegiatan tersebut pada akhirnya menjadi bias dan semakin mirip satu sama lain. Bilangnya belanja tapi nyatanya cuman jalan-jalan… bilangnya jalan-jalan aja, tapi pulang-pulang udah bawa banyak tentengan di tangan. So…. gak penting banget sih, rencana kita apa, mau dibilang shopping atau cuma walking-walking… yang penting gak merugikan orang lain…

and check it out…

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 98 other followers