Sakit Kepala yang sakit sekali

•February 8, 2016 • Leave a Comment

Sudah lebih seminggu, sakit kepala terus meradang. Awal-awalnya gue menyebutnya migrain. Namun akhir-akhir ini sepertinya tidak ada kata lelah bagi migrain untuk melanda kepala gue.

Banyak pikiran

Katanya, migrain disebabkan adanya ketegangan syaraf akibat terlalu banyak pikiran. Tidak santai.

Faktanya, dalam tidur pun, gue memang bermimpi, namun tetap ada kepikiran-kepikiran yang tak tentu kalut tapi menjenuhkan. Memunculkan kata galau, yang berkepanjangan. Faktanya, memang dalam rentang waktu berbulan-bulan, bisa gue bilang, selalu banyak muncul tekanan-tekanan yang dimana mereka seolah-olah tidak melakukan tekanan itu. Utamanya dari keluarga. 

Keluarga, too much preasures from them, and i can’t handle it one by one. Semuanya langsung menyerang otak bersamaan dan serampangan. Mungkin saat ini lah kepala gue berani untuk berontak.

Bukan memaksa kawin, bukan meminta cucu. Bukan itu. Itu sih udah lewat masa-nya. Mereka memaksa gue untuk menjadi apa yang menjadi kemauan mereka. Itu aja. Dan walau terdengar “itu aja”.. Namun bagi gue, itu sangat lah gak bisa dianggap begitu aja. Mereka menuntut gue sempurna di mata mereka. Instant dan gak boleh ada proses. Gue harus perfect dalam sekejab. Mereka pikir setengah tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah gue menjadi seorang yang “mature” dimata mereka.

Ah gue sudah gak kuat lagi.

Di dalam penulisan ini, saat ini, keadaan gue sudah tidak stabil. Entah lah, apa yang bakalan gue lakukan. Habis gairah. Dan kepala ini semakin sakit melebihi sakit kepala yang biasanya. Suara-suara itu semakin jelas gue rasa…

Hanya gemuruh hujan dan petir yang menggelegar yang masih bisa sayup gue dengar. Selebihnya “kosong”

Sudah saatnya….

Advertisements

Romansa #007

•February 1, 2016 • Leave a Comment

Jreeeeeng……

Entah lah… Musti ngomong apa. Hanya bisa tertawa dalam hati. Setelah seminggu dalam kebisuan. Dia muncul dengan rasa penasaran tingkat tinggi. Alasan apa yang akhirnya membuat dia tidak mendapat kabar sama sekali dari gue…

Dicecar, gue masih bingung. Ditanya, apa, gue hanya bingung, ditanya apa yang bikin bingung, ya kondisi gue yang bikin bingung jawab gue ketus, ditandas dia bukankah dia tak pernah mempermasalahkan kondisi gue, ya gue menimpalinya iya, memang tidak ada masalah….

Aku lah masalah itu… Yang bermasalah…. Tapi dia juga salah, walau pada akhirnya gue malas ungkit lagi, secara gue juga udah menggelontorkan ketidak sukaan gue kepadanya. Suka menggertak lah, walau alibi dia, gertakan dia memang cara dia ngomong, tidak lebih. Dan gue gak nyaman dengan cara ngomongnya yang menggertak, dan bagi dia itu masalah kecil yang malahan bukan masalah…. OKEEEEEH

Dan jawabannya iya, gue kembali menyatu. Ahay… Menyatuuuu…. Najish ah bahasanya…

Catetan: siang tadi gue barusan potong rambut, kayaknya dia terkesimsum… (Gak penting untuk diketahui)

Romansa #006

•January 26, 2016 • 6 Comments

Romansa nomor 5 hilang begitu saja. Karena kini gue mulai hilang rasa. Selesai. Sepertinya sudah terbiasa patah hati, untuk ke yang sekian kali…. Hahahahahaa… Selamat datang kembali kesendirian yang menenangkan….

Romansa #004

•January 21, 2016 • Leave a Comment

Menyebalkan

Sore tadi, kami sudah sepakat janjian jauh hari sebelumnya untuk nonton film yang gue pribadi gak tau musti nonton apaan. Secaranya dia-nya bersabda bahwa semua filem sudah ditonton. Denger statement kayak gitu tuh sakit banget deh hati ini. Seakan akan gue tuh ditinggal sendirian di gurun pasir yang gersang. Bisa gitu ya…. Nonton sendirian. Dan entahlah, kenapa juga akhirnya gue maksa-maksa buat jalan dan nonton. Walopun kondisi masih kere maksimal, tapi bermodal sisa fee editing tempo hari, masih cukup lah ya buat nonton sama makan seadanya. Yup betul seadanya.

Kalo ditanya kenapa judul tulisan kali ini menyebalkan, ya karena gue sebel aja. Di saat gue  udah nyampe Tunjungan Plaza (TP), mendadak dia nelpon kalo dia di Marvell City (MC). Panik lah gue. Tak pernah gue ngajak ketemu di MC, lah ini, dia dengan nyolotnya ngabarin dengan membumbui emosi kalo gue yang tolol dalam hal ini karena ngomong ketemuannya di MC. Udah gitu, saat gue ngabarin kalo gue udah nyampe di TP dan sekalian nyari buku di Gramed sambil nunggu, eh dengan nada tai-nya dia bilang, kalo di TP gak ada Gramed. Nah looh!!! Emosi dong gue. Jelas-jelas gue masih di Gramed dan dia dengan seenak udelnya sendiri bilang di TP ga ada Gramed. Selama 30 Menit berselang, gue di-hectic-kan dengan kelakuannya.

Disaat kondisi gue kesel banget membumbung bumi, mendadak dia muncul di belahan ekskalator sambil menerima panggilan gue. Ternyata gue dikerjain. Dan hal ini gak ada lucu-lucu-nya sama sekali. 

Belum habis sampai disitu, tanpa ada maaf ataupun apa, seakan-akan memang dia gak ada salah, pun tak ada niatan dia untuk menemui gue. Entah dia jalan kemana mencari apa, hingga terpaksa gue yang menyusuri belahan bumi taiwan untuk mencari tai kucing itu.

Dan tau gak, apa komen dia terhadap gue. “Waduuuuh, kamu kok kampungan sih pakaiannya, norak banget! Harusnya bisa melihat kapan dan dimana menyesuaikan baju. Ini di TP, bukan di Sutos.”

Seakan disamber geledek, terus diseruduk kerapan sapi, kemudian mental ke langit dan ditabrak pesawat Garuda Boeing 77777777, baru kali ini gue dibilang norak. Dan itu dari mulut dia. #well gue nahan emosi. Gak bagus ngamuk-ngamuk di depan banyak orang. Apalagi dari jenis dan ras berbeda. Gue hanya nyumpahin dalam hati. Semoga Allah selalu melindunginya dari segala mara bahaya. #tanganmengepal

Tanpa banyak cincong, dia sekali lagi mengacaukan pendirian gue. Yang katanya nonton di Bioskop Tunjungan 5 lah, pindah ke Marvel City lah, makan di food court lah, tai kucing lah, eh btw, kok gue males ngelanjutin nulis yaaa!!?? 

  
Intinya gue kesel. Akhirnya gue nemu film yang bikin dia diem. Yang awalnya sepakat nonton jam 7, sengaja gue ajuin jam 5. Dan efektif membuat dia kesel. Tapi masih belum bisa membayar kekesalan gue yang maksimal kuadrat!

Kencan cap tai kucing ini pun jadi berasa beneran kayak tai kucing. Anget sih, tapi ya gitu, pait! Sepanjang detik setelah nonton bawaannya pengen bunuh. (Hadeeh ntar jadi tipikal yang kebiasaan ngebunuh kalo pas lagi sakit hati). Well, ada kejadian di dalam lift saat hendak keluar mall. Saat hidung gue meler, dia dengan refleks menawari gue freshcare aromatheraphy, dan you Know what, di jemarinya saat dia mengambil freshcare, terdapat pelicin sutra kemasan sachet yang nyangkut. Homok mana yang gak tau kalo itu pelicin. Dilihat dari ekspresi mimik wajahnha sih biasa saja, tapi gue gak bisa dibohongin dengan kekikukannya. Dan otomatis raportnya muncul angka merah. Sekian. Rasa gue mendadak hilang. Tak lagi ada rasa yang menyebalkan. Gue kayaknya mati rasa.

Dia ngajak ke depot makan depannya stasiun pasar turi gue turutin. Dia ngajak Ta’ziah ke ‘mas’ nya yang entah yang kebetulan tutup usia karena sakit komplikasi paru-paru itupun juga gue turutin. 

Hilang tujuan akhir, gue pun diantar “pulang” tanpa tanya olehnya. Sekali lagi dia mencoba untuk tampil menyebalkan, namun kayaknya hati ini sudah terbius untuk tidak bisa merasakan sakit. Terserah dia bilang apa. Gue hanya ingin segera pulang. Dan melupakan kejadian hari ini, namun sebelumnya musti gue tuangkan dulu dalam blog ini. Ya setidaknya kalopun ada hal-hal yang terjadi di kemudian hari, tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan. Next, kayaknya gue harus bisa lebih narsis lagi. Karena bukti hanya berupa ucapan dan tulisan gak terlalu kuat. Kuatkan dengan foto atau video. Dijamin akan memberatkan. 

Gue pun berharap dengan tulisan ini, ada yang bisa mengingatkan bahwa gue masih manusia yang seharusnya dimanusiakan. 

Selamat malam….

Romansa #003

•January 17, 2016 • 4 Comments

Dan ternyata dia kesal….

Diantara dini hari dimana gue menulis ini dengan hari hari seminggu sebelum itu, gue meringkas kesimpulan dari runut kesalahan yang gue perbuat terhadapnya. Dia, menyimpulkan (sementara) banyak hal. Pertama, dikiranya saya selingkuh dengan (sebut saja bunga bangke). Karena sking akrabnya gue sama si bunga bangke(bb) ini, lama-lama dia merasa curiga, siapa sih si bb ini. Dikit-dikit sama bb, keluar bentar sama bb, ada perlu sama bb. “Jangan jangan “bojo loro” mu ya yaank?” . Dalam hati pengen rasanya ngeGampar tuh mulut, tapi sayang, ciumannya dahsyat, gue gak mau gara-gara gue dia jadi fakir kissing….

Kedua, beberapa kali gue menolak halus dalam bercinta. Ya bercinta, mereka menyebutnya ml. Iya ML. Making Love. Kenapa? Dan dikiranya, gue adalah penganut faham pacaran sehat. Dimana dalam pengertiannya, gue hanya menjalankan relasi batin, tanpa ada sentuhan ragawi. Alangkah nista-nya diri ini bila mengingkari nikmat Tuhan yang satu itu.  Setiap orang butuh seks. Namun disini takaran dan komposisi kebutuhan masing-masing orang juga pasti beda-beda. Begitu juga level seksualitas adu raga kami berdua. Sangat lah timpang. Dia lebih “ganas”. Mungkin faktor U kali ya? Mungkin…. Iya, tentu saja gue pengidap faktor (kemajemukan) Usia. Dia 4 tahun lebih muda dari gue. 

 
  percintaan kami berdua, dianggapnya sebatas status. Well, gue gak butuh status malah dalam berelasi. Karena cinta itu ibarat aplikasi software yang setiap hari harus di-update terus. Kalo awal-awal musti manual. Kalo udah paham, baru deh dengan tambahan fitur-fitur yang “mengundang”.
Kami berdua berdebat berseru. Dengan santun kami mencegah lamun. Mengutarakan alasan dari gue kepada dia. Menelaah hausnya informasi real. Pelan-pelan mendewasakan. Di pendopo Alun-Alun Gresik. Kami membuang lelah. Masih terasa ada sedak menganga di urat nadi manusia kini.selesi tak selasai harus selasai.

  • Tragedi tak lazim itu dibumbui noda ketidak-percayaan. Gue digiring untuk memahami apa yang ada di dalam isi otak dia.

Sampai ketemu besok-besoknya lagi dalam markas besar nurani kecil…
Romansa ini akan terus berlanjut…. 

Ada ciuman keren yang kami berdua lakukan. Di sebuah kawasan publik. Di sebuah jalan. Kami berciuman. Mesra. Setelah sebelumnya gue berduka.

Romansa #002

•January 12, 2016 • Leave a Comment

Bedakan “rasa” ketika mengobrol lewat tulisan di gadget dengan chat yang sebenar-benarnya. Gue merasakan bener. Ada banyak hal yang bersifat asumsi atau bias interpretasi dari setiap makna kalimat yang disampaikan partner gue ketika kita ngobrol. 

 Entah ngobrolin apa, yang pasti selalu saja ketemu ganjalan-ganjalan kekhawatiran. Dia nulis biasa, gue nangkepnya dengan emosi, dia emosi pun ketika gue nulisnya biasa. Jadi pada akhirnya kita sepakat untuk mendiamkan apabila salah satu terperangkap dalam ruang emosi tingkat tinggi. Atau harus jujur untuk mengungkap diri bahwa sedang kalut dalam jiwa emosional.

Awal tahun ini, masih ketemu bumbu asin. Mungkin gula masih terlalu mahal. Ya setidaknya, rasa asin ini bisa sedikit menghibur kencan kami yang terkadang getir. 

Romansa #001

•January 9, 2016 • Leave a Comment

Hari ini babak baru telah dimulai. Kini tak lagi single. Hampir 3 tahunan menjomblo. Seharusnya gue sudah meluncurkan satu Album, bukan single lagi…. #basilawasjoke-nya.

Awal tahun 2016, gue resmi dipinang anak orang. Yang ngakunya asli Gresik juga. Tapi rasa cintanya melebihi rasa cinta gue terhadap durian. Bener-bener gue dibikin klepek-klepek sama dia. Intinya, seminggu dua minggu gue dibuat dangdutan sama dia. Terakhir gue dibikin galau tak berujung. Ketidak-pasan idea yang saling bertanrakan. Tapi disitulah seni nya.

Well, selamat berjuang gue!!!!

Hidup udah berwarna kini….

Untuk dia yang kini jadi pelabuhan gue…. Amini.