Anonymous | Chapter 1: Go Go Dancer

•March 9, 2015 • 1 Comment

Whats up….!!!

Pada akhirnya kembali lagi nulis di blog yang sempat terbengkalai ini. Saking sibuknya, hahahaaa #rezzzz

Well, mohon ampun buat diri gue sendiri yang gak bisa bagi waktu, yang pada akhirnya banyak moment yang lewat begitu saja. Mungkin hanya bisa disaksikan lewat PATH, Instagram, Twitter dan mungkin facebook. Walau untuk aplikasi yang terakhir ini sudah mulai jarang dipakai.

kali ini, gue mau memperkenalkan sebuah mainan baru. Yang notabene gak baru-baru banget sih. Cuman entahlah apakah bisa rutin atau gak membuatnya. jadi ceritanya, gue lagi demen-demennya bikin video. Hmmm, mungkin sebutannya video blog kali ya. Gue kali ini bersama temen gue, mencoba membuat video yang isinya gak penting tapi bisa jadi penting. Gak ngasal dan bisa dipertanggung-jawabkan.

Gue ngasih nama segmennya, Anonymous. kenapa anonymous????

Alasan pertama, gue merasa ada banyak hal-hal baru dari dalam diri gue, dan beberapa temen gue yang ingin dirasa untuk dibagi kesemua temen-temen yang lain. terkadang kita punya bahan obrolan yang isinya gak penting, tapi padahal bagi orang lain itu penting banget. mungkin kita tahu, tapi belum tentu orang lain tau juga. Jadi konsepnya, liat aja kami, ngobrol apaan. Mungkin kalian tau apa yang kita obrolin, tapi bagi yang gak tau, gue berharap sih kalian pengen tau, dan jadi tau dengan apa yang kami obrolin di video blog ini.

Penting gak penting, hanya gue, temen gue, kalian dan Tuhan yang tahu. Karena Google belum tentu tahu.

Selamat menikmati episode perdana Anonymous…..

Hidup adalah Proses

•February 18, 2015 • Leave a Comment

IMG_1869

Ringkasan tentang 2014

•December 31, 2014 • 1 Comment

Sudah dipenghujung tahun. malam nanti, tepatnya dini hari nanti, gue akan menginjakkan telapak kaki gue di tahun baru 2015. hmm… amazing aja, ternyata masih ada usia yang bisa gue cicipi. Kenapa bisa gitu, karena gue dulu terkadang optimis bahwa gue punya feeling buat mati muda. Tapi, lupakan mati muda…. meski usia udah gak muda lagi, namun mudah mudahan jiwa dan hati senantiasa bermuda selalu….

di tahun 2014, gue merasa ada banyak hal yang disebut masalah dan datang silih berhilir, berganti hulu. Semuanya seakan-akan membuat “hetong” ini “sekong“. Gimana nggak, semuanya terkadang datangnya rombongan. satu persatu sih gak masalah, nah kalo bergerombol dan bikin otak jebol apa gak senewen?

mulai dari yang ini dan yang itu, dari masalah yang bisa teratasi karena saking mudahnya, hingga masalah yang hingga akhir tahun ini belum kelar….

Sebenarnya bukan dinamakan masalah juga sih kalo gak bikin masalah….

Tapi cukup lah mendengar keluhan gue. Kali ini gue ingin berbagi sedikit diantara kebahagiaan dan beberapa penderitaan gue yang cukup flat dan hambar. Kebahagiaan ajah hambar, apalagi penderitaan gue, pasti busuk!!! hahahahaa….

Well,  berikut gue pingin berbagi sedikit atau mungkin secuil kisah dan hal-hal yang berpengaruh di sepanjang 2014. Siapapun dan apapun yang bersinggungan dan berkeberatan dengan nama ataupun hal-hal yang gue sebutkan, bijaksana lah….

Dan di bawah ini adsalah kategori dan nominasi:

  1. Kasus tercucok
    1. Grantee Jonas molor
    2. Masalah kerjaan yang tak kunjung asyik
    3. Mencintai karena dicintai
  2. Kejadian tercucok
    1. Resign dari GWL
    2. Jatuh cinta
    3. putus nyambung putus nyambung soal kerjaan
  3. pertemanan tercucok
    1. Colita – ketika usia bukan menjadi masalah
    2. Bunda Pluto – Tidak punya ibarat untuk bentuk pertemanan kami
    3. Devina susiati – pertemanan merubah kodrat
    4. Luqman – jauh dekat Rp 4.000 LDR itu murah
  4. Benda paling cucok
    1. Harddrive – without them, I’m nothing
    2. kartu ATM – karena kalau hilang, pasti kelimpungan
    3. Kartu Tarrot – media untuk berimajinasi paling mantap
    4. Batu Nicholas Flamel – efektif ketika bener-bener kepepet pup
  5. Manusia paling cucok
    1. Lutfika – dengan segala keterbatasannya, mampu mendobrak keterbatasannya #rezz
    2. Colita – sebenarnya multi talenta, tapi sayang, kukunya cantengan
    3. Ferry – manusia misterius, hingga kini belum diketahui keberadaan-Nya
    4. ?????? – masih dirahasiakan, nisacaya jadi bapaknya anak-anak
  6. Tempat/lokasi paling cucok
    1. HOKBEN – banyak drama dan inspirasi muncul disitu
    2. RUANGAN KANTOR INFOKOM – lebih banyak drama yang pada akhirnya mampus dikandang ini
    3. KOSAN – walau jarang ditiduri, setidaknya gue punya hunian.
    4. SEVEL – cucok gak cucok, tergantung pengunjungnya cucok-cucok or not
  7. Kuliner tercucok
    1. LovingHut (Lotte Avenue) – Saladnya ngunci di hati
    2. AYAM PENYET MAS BIRU (depan kos) – Yang dijual dan yang jual sama-sama enak
    3. WarTeg Ojo Lali – Murah meriah, Melimpah sajiannya dan gak pake lama
    4. Semua fastfood (kecuali Lotteria) – Selalu ada ketika yang ada nggak ada
  8. Karya tercucok
    1. Film B-Change Part II – Semuanya dibikin rempong
    2. Film pendek – Bila Hati Bicara
  9. Bacaan tercucok
    1. Koran bekas bungkus apa ajah, justru koran baru malas baca
    2. Status sosial media pertemanan
  10. Film tercucok
    1. The raid II: terkadang gue ngerasa adalah seorang Hammer girl
    2. Pendekar Tongkat Emas – dan gue dibawa ke sebuah kehidupan yang ada guru ada murid dan ada perguruan silat.
  11. lagu tercucok
    1. Dark Horse – Kety Perry
    2. All About That Bass – Meghan Trainor
    3. Chandelier – Sia
  12. Media sosial tercucok
    1. PATH – Emang cucok menurut gue
    2. Grindr – Tempat iseng seiseng-isengnya
    3. Facebook – Masih ada nyawa tersisa disini
    4. Instagram – Entahlah suka aja
  13. Kegiatan tercucok
    1. Maen game di gadget
    2. ketemu mahasiswa (Interview)
    3. Telpon-telponan sama seseorang
    4. Tidur – masih prioritas
  14. Idola tercucok
    1. James Franco – semakin tercium, entah lah…
    2. Joe Taslim – tak kan pernah tergeser
    3. Sia – Cool ajah

Dan begitulah daftar yang bisa gue berikan. terkait nama dan peristiwa, itu bukan fiktif belaka. Bisa jadi andalah orang yang gue maksud.

Baiklah, tanpa berwaktu lama, gue hanya bisa ucapin, Selamat tahun baru 2015, semoga di tahun berikutnya menjadi pribadi yang ajaib dan penuh kejutan yang menyenangkan…. selamat berlibur!!!!

new-year-2015

Surat Untuk Ibuk…

•December 22, 2014 • 2 Comments

Dear Ibuk,

Entah saya harus mulai dari mana…

Semoga Ibuk selalu sehat, dan dalam lindungan Allah SWT.

Apa kabar Ibuk hari ini ? Semoga selalu baik. Begitu pula dengan saya. Saya selalu berdoa semoga Ibuk senantiasa diberi kemudahan dalam menjalankan aktivitas. Seperti yang biasa Ibuk lakukan sehari-hari, beli nasi bungkus buat sarapan untuk Bapak yang selalu berpesan agar tidak dicampur sambal. Cara jalan Ibuk yang sudah tidak sekuat dulu, selalu awas dalam melangkah, karena bila tidak, bisa-bisa tulang menjadi linu. Masih ingat bagaimana wajah Ibuk menggambarkan kengiluan itu. Karena Ibuk pernah mengirimkan foto itu, semoga Ibuk masih ingat….

Buk….
Terakhir kali, lebaran kemarin, saya gagal pulang kampung. Namun saya beruntung punya kesempatan untuk berjumpa dengan Ibuk di bulan Oktober kemarin. Memang hanya sekitar satu Minggu. Dan itu cukup singkat, saya benar-benar menyesal. Saya juga melihat serpihan sesal di wajah Ibuk. Saya minta maaf, tidak bisa berlama-lama. Saya minta maaf…

Buk…
Sudah hampir 5 tahun kita berjarak. Antara Gresik dengan Jakarta…
Ibuk masih ingat, siapa yang paling canggung berpelukan saat saya akan pergi? Iya, saya lah yang sangat canggung, karena niat saya memang untuk mengejar impian ke Jakarta. Dan benar, Saya merasa Ibuk berat sekali dengan semua keputusan saya. Saya yang sejak dulu selalu berada di dekat Ibuk, mendadak berkeputusan untuk meninggalkan Ibuk. Saya merasakannya Buk… Sungguh saya merasakannya… Ibuk menahan tangis, agar saya tidak menangis. Tapi malah saya yang menangis dengan perpisahan itu. Dan Ibuk malah menyangkal dibilang menangis, walau ada air mata menetes di pipi. Tidak ada lagi rasa canggung. Bagaimana Ibuk menampar saya dengan kesal gara-gara melihat saya menangis sehingga Ibuk ikut menangis.

Anak kesayangannya akan meninggalkannya….

Enggak Buk….

Saya selamanya tidak akan meninggalkan Ibuk…

Buk…
Masih ingat sama janji kita yang dulu kan ? Apapun yang saya lakukan, Ibuk selalu dukung… Walau terkadang seringkali Ibuk malah menentang. Dulu, saya masih belum paham kenapa ada banyak alasan di benak Ibuk yang selalu menyudutkan saya. Membuat saya selalu merasa bersalah. Ujung-ujungnya, saya menjadi orang yang peka. Ibuk pernah bilang, “semakin kamu sering merasa bersalah, setidaknya kamu dimudahkan untuk melihat kebenaran, selama kesalahan itu tidak berasal di kamu.”

Buk…
Banyak hal yang telah kita lewati bersama. Menjalani masa transisi. Dari seorang saya yang dulu hingga menjadi saya yang seperti sekarang. Masih ingat sekali, bagaimana jaman masih SD dulu, ketika teman-teman sekelas mengatai saya “banci” hingga sampai-sampai saya ditelanjangi, Ibuk yang datang ke sekolah. Mempertanyakan keadilan sambil nangis-nangis. Karena Ibu Kepala Sekolah hanya mengeluarkan pernyataan, “LUMRAH, NAMANYA JUGA ANAK-ANAK…” Dulu saya tidak paham dengan kalimat itu, tapi sekarang saya paham, kenapa saat kejadian itu Ibuk marah besar. Saya benar-benar paham.

Tiap berangkat ke sekolah, Ibuk selalu berbisik, saya masih ingat, “jangan pernah menangis di depan teman-temanmu, jangan pernah…”
Dan gara-gara nasehat itu, saya selalu berusaha untuk tidak menangis ketika dipukuli, dilempari kerikil, diceburkan ke dalam got, disuruh memanjat pohon yang kemudian dilempari biji-bijian dari bawah. Dan saya hanya menangis di bawah kolong ranjang Ibuk. Yang sebenarnya Ibuk tahu tapi pura-pura tak tahu. Saya merasa paham, mengapa Ibuk bersikap seperti itu. Ibuk pernah bilang kan, “manusia suatu saat akan dihadapkan pada kesendirian, terkadang ada kekuatan di balik berkesendirian.”

Buk…
Semenjak kejadian di SD itu, tak pernah sekali pun, Ibuk datang ke sekolah untuk mengambil Raport kenaikan kelas. Selalu bapak. Hingga saya STM. Tak sekalipun, dulu saya menganggap itu biasa, tapi kini saya paham. Sangat paham.

Buk…
Kita semakin berteman akrab semenjak saya lulus STM. Kemana-mana berdua. Soal kostum apa yang bakal Ibuk kenakan buat menghadiri undangan pengajian, saya yang selalu diandalkan. Ibuk bilang, saya hebat memadu-padankan pakaian. Terima kasih dorongan semangatnya yang terselubung. Karena Ibuk tahu kan, kalau saya dulu haus pujian. Entah sekarang…

Selalu banyak semangat…

“boleh pacaran, asal gak lupa sama yang ngasih kehidupan di dunia dan akhirat”

Saya menganggap kalimat itu artinya ungkapan rasa syukur Buk….

Buk…
Dari semua anggota keluarga, Ibuk adalah orang pertama yang sadar bahwa saya tidak seperti anak-anak Ibuk yang lain. Dari semuanya, Ibuk yang selalu memperlakukan saya berbeda. Bukan mengistimewakan, tapi lebih kepada memperjelaskan bahwa saya spesial. Karena menjadi spesial atau unik, tidak perlu dan tidak juga harus diistimewakan. Saya masih ingat, Ibuk selalu berpesan, “menjadi berbeda bukan berarti harus diperlakukan istimewa, karena keistimewaan itu sendiri lah yang membuat kita menjadi terlihat berbeda, kalau sudah begitu jangan pernah menuntut untuk mendapatkan hak yang sama….”

Buk….
Tepat setahun yang lalu, sekarang, di tanggal yang sama, semua anak-anak Ibuk berkumpul di rumah. Entah mereka merayakan apa. Apakah mereka berbagi cerita tentang kesuksesan mereka masing-masing, atau sekedar memperingati perayaan seremonial hari Ibu. Saya senang bila semua saudara-saudara saya berkumpul. Apalagi khusus untuk memeluk Ibuk. Saya terkadang iri. Namun lewat surat ini, setelah membaca surat ini, saya selalu berharap ada ruang untuk pelukan, antara Ibuk dengan saya. Sisakan sedikit celah, satu inchi saja untuk saya. Ada kangen yang menjelma menjadi rasa bangga. Kebanggaan saya selama ini atas apa yang telah Ibuk berikan kepada saya, ketulusan atas apa yang telah Ibuk ajarkan kepada saya, dan beribu-ribu kebaikan yang ternilai yang selalu tercurahkan dalam berbagai cara dan kesempatan. Yang bahkan di setiap amarah saya, selalu saja ada kandungan kebaikan yang justru menampar saya.

Kasih macam apa yang kau punya Buk, hingga terkadang perasaan bersalah saya begitu sangat besar, karena saya begitu banyak sekali melihat hal-hal benar di mata Ibuk.

Untuk Ibuk, yang tersayang, yang pernah kubenci tapi akhirnya saya sesali, yang telah menjadikan saya kuat, tangguh sekaligus fabulous, yang agak kurang pede kalau rambut ubannya kelihatan, yang paling susah kalau balas SMS, yang suka nanya saya masih single atau sudah in relationship, yang suka mengaku bottom kalau dikenalkan pada teman dekat saya, yang seringkali “klik” kalau saya ada masalah, dan yang seringkali tidak mau ngomong kalau sedang bermasalah, sekali lagi, untuk Ibuk, saya mengucapkan TERIMA KASIH…..

I Love You, Selamat Hari Ibu

Salam hangat penuh sayang,

Imam…

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/879/15841518/files/2014/12/img_1144-1.jpg

Kisah kecil maha cinta (01)

•December 20, 2014 • Leave a Comment

Suatu ketika, gue ngobrol sama seseorang yang ternyata menyukai gue. Lewat aplikasi chat, dia berusaha untuk menyatakan sesuatu yang bersifat suka. Suka pada gue. Ada hal didiri gue yang dianggap menarik. Ahay…

Awalnya, gue kenal Biru (bukan nama sebenarnya) hanya lewat aplikasi path. Dia rupa-rupanya menjadi target inceran sohibul gue, Gerhana (juga bukan nama sebenernya). Dengan berbinar-binar bin berkaca-kaca, Gerhana selalu menceritakan potensi positif yang ada dalam diri Biru. Geu sih, biasa aja.

Mungkin karena Gerhana sudah pernah bertemu dengan Biru dalam sebuah workshop, sehingga sudah mengenal jauh. Toh, gue kenal Biru juga dari Gerhana.

Komunikasi lewat Path dan ternyata usut punya usut, Biru yang berdomisili di luar pulau, akan menghadiri sebuah pertemuan akbar yang diadakan oleh organisasi tempat gue bernaung. Hmmm…. Masih belum ada perasaan apa-apa di gue. Hanya sebatas rasa penasaran. Tanpa melibatkan perasaan.

Namun berbeda ketika gue melihat ekspresi Gerhana yang menyambut kabar itu dengan suka cita. Ya sudah lah, mungkin sudah waktunya Gerhana merasakan api cinta yang sempat hiatus berabad-abad.

Fast motion

Di sebuah pertemuan, rupa-rupanya sosok Biru memperhatikanku. Berbeda dari apa yang gue bayangkan. Dia hanya diam dan mengawasi gelagat gue yang amburadul berantakan tak karuan. Mungkin karena dia melihat aku sangat biadab dalam beradab, jadinya dia hanya bisa diam, mungkin.

Disatu sisi, gue melihat Gerhana nampak begitu antusias melayani Biru. Memfasilitasi Biru dengan segala kenyamanan yang ada. Alangkah, betapa jahatnya kalau gue tiba-tiba bertindak sesuka hati, lompat kesana kesini, tak peduli bahwa ada hati yang sedang bermain-main. Rona merah yang menghiasi wajah Gerhana semakin terang, kebahagiaannya terpancar. Namun alangkah nistanya, ternyata Biru hanya menganggap Gerhana sebatas teman saja. Uhlala…

Gue tidak merasakan sesuatu, tapi ada segala jurus kecurigaan yang mendadak ngumpul. Biru mulai berani dekat-dekat kepada gue. Memegang tubuh gue. Memeluk gue lebih tepatnya. Mungkin dia beralibi sedang melakukan pelukan persahabatan, atau pelukan suka ala-ala. Biru sepakat dengan alam semesta, dia merasa bahwa gue adalah makhluk menarik sepanjang masa. Kata demi kata dia gelontorkan ke gue tak henti-hentinya. Memanggil gue sayang, memanggil gue darling dan sebutan-sebutan mesra lainnya. BIRU SUKA GUE….

ya benar banget. Ini babi banget. Betapa akan kecewanya Gerhana melihat geliat kami berdua. Sekali lagi gue menegaskan pada semesta, bahwa gue bukan dan tidak seperti yang dikira. Biru ternyata juga memiliki kekasih. Tak disangka bukan? Dan yang lebih tak diduga lagi, kekasihnya juga salah satu dari ajang acara pertemuan itu. Klop kaaaan?

Cukup Biru dengan mengumbar kemesraan publiknya. Gue pun usai dengan kebinalan yang tak berwujud. Ada hal yang harus gue selesaikan melebihi kasus gue dengan Biru.

Acara pertemuan itu selesai. Begitu juga dengan perlombaan hati nya. Masing-masing kembali pulang. Gue ke pulau gue, Biru ke pulaunya. Masing-masing menyimpan kisah sendiri. Entah masih berlanjut atau sudah selesai…..

Present…

Dan semalam Biru menyatakan rasa itu. Sebuah rasa yang hanya muncul bila seorang insan diliputi partikel suka dan sayang. Biru menyatakan cinta. Pada gue. Ahay….

Gue tidak bisa menjawab, I DO…. Karena dia sedang tidak melamar gue. Tapi gue hanya bisa bilang, KITA LIHAT SAJA NANTI….

Lari Dari Pelarian

•December 19, 2014 • Leave a Comment

Pernah kah kalian berada dalam situasi dimana posisi kalian adalah bukan sebagai tersangka namun tersudutkan karena sebagian dari mereka menganggap kita adalah yang tersalahkan…

Sungguh sangat menyebalkan. Tidak seharusnya gue nulis cerita beginian, tapi kalian harus tau, bahwa dihinggapi perasaan bersalah padahal kita gak salah itu fak banget.

Ketika kita sudah lelah untuk bertahan dari situasi kerjaan yang sudah tidak kondusif lagi untuk diperjuangkan, masih harus kah kita memeras darah untuk mempertahankan kredibilitas. Harga diri sudah dicoreng seakan-akan gue salah dalam memilih beberapa pilihan. Gak mampu menentukan pilihan, dan bodoh memposisikan tujuan.

Manusia yang dulu dipercaya bisa memberikan petuah dan wejangan, kini hanyalah seonggok tai yang tiada arti. Sifat asli mulai kentara. Awalnya seperti emas murni, niat murni menolong gue dalam keterpurukan, namun ternyata ujung-ujungnya …… Entah lah, kata-apa-yang pantas untuk menyebut kelakuannya yang ajaib bin biadab itu.

2013 awal tahun, gue pernah dihadapkan pada permasalahan relasi yang akhirnya menjadi konsumsi publik. Nama lumayan tercemar tapi tak apalah. Lagipula siapa gue…. Hahahaa….

Dan kini diakhir 2014 seakan-akan mengalami deja vu. Oknum yang merasa paling benar sendiri, mencerca relasi percintaan yang pelan-pelan gue bangun. Kali ini dari orang yang berbeda. Dan yang bikin sakit, ini adalah orang yang dulunya pernah “menolong” gue. Serba salah? Dilema? Gue pikir tidak. Ini adalah keputusan yang telah dia buat.

Pantas kah gue marah? Hmmm… Pertanyaan tersebut, kayaknya hanya gue yang pantas untuk menjawab.

Ya kita tunggu saja kabar berikutnya…..

Ternyata, Yang Bego Kayak Naruto itu Gue…

•November 22, 2014 • 4 Comments

Suatu ketika, gue tergoda untuk mengagumi seseorang. Entah kenapa, banyak yang bilang dia gak seberapa. Namun bagi gue, dia ada sesuatu. Karena baru kenal, gue hanya bisa senyam senyum judes untuk menilai dia, apakah dia tipikal orang yang terlalu gampang menilai orang.

Tak disangka, ternyata ada rasa yang menyengat pelan-pelan. Rasanya itu lucu, menyebalkan, menyesakkan, menyenangkan dan sekaligus asem.

Gue kecewa sedikit ketika dia bercerita bahwa dia punya pacar di belahan pulau lain di sekitaran wilayah Indonesia. Dan lebih tragisnya lagi, dia ternyata juga mengagumi orang yang ternyata gue kenal juga. Teman gue sendiri.

Kalau disuruh menjelaskan, mungkin karena alasan dia bisa mengimbangi kegilaan gue lah, yang sebenernya membuat gue merasa nyaman di dekatnya. Tapi dalam seketika itu juga gue merasa ditusuk paku santet, bertubi-tubi disaat dia harus “berhubungan” dengan “kenyamanan”nya yang lain.

Beberapa teman menyayangkan hubungan gue ini. Belajar dari pengalaman gue masih sadar dan terkadang masih memegang logika yang tersisa. Seperti rumus cinta yang dulu dulu, tai kucing rasa stroberi.

Baiklah, gue akhirnya hanya bisa bersandar pada satu logika dan dua imaji cinta. Dan perlahan logika pelan-pelan sirna. Gue terpana dengan kegilaannya. Terluka dengan keegoisannya. Dan terlatih dengan kesedihan yang dia berikan.

Entah harus bilang apa. Gue merasa, dia punya dua pilihan dan gue adalah salah satu obyek pilihan itu. Membayangkan menjadi obyek dengan “saingan” dari kalangan temen sendiri, itu menyakitkan. Sungguh…

Terombang ambing dalam kebingungan. Semakin diteruskan, akan semakin tak berujung, menjadi pilihan yang mungkin tidak akan terpilih, atau kalau beruntung tentu saja akan terpilih.

Tapi rasa cinta gue tidak seperti itu. Gue tak punya kuasa untuk menjadi tegar demi memperjuangkan cinta tapi mengorbankan perasaan. Dan gue tak mau melanjutkan perjalanan hidup namun dibelakang gue ada seseorang yang berkesedihan mendalam. Terlebih, sekali lagi, dia temen gue.

Tidak butuh sebulan gue menjadi dekat dengan dia ini. Kita merasa cocok satu sama lain. Namun ada hal dalam pemikirannya yang disposisi. Dia menganggap bahwa sabar adalah bagian dari proses. Proses tidak cepat. Jadi butuh waktu bagi dia untuk memilih, siapa kah yang cocok baginya. Gue atau temen gue?

Mungkin ini adalah buah dari membelot atas prinsip gue yang dari dulu. Dulu, gue, sempet ngomong gini, “gue gak bakal jalan (pacaran) sama temen-temen komunitas sendiri… Itu menyakitkan pada akhirnya.”

Dan kini prinsip itu udah terbongkar. Dan memang menyakitkan.

Karena gue terpaksa harus mengorbankan, agar tidak ada penderitaan yang berlarut-larut. Tentu saja semua yang terlibat pasti dalam keadaan kalut. Atau bisa juga tidak…

Kuakhiri, jangan pernah menyebut gue drama queen. Kronologis berikut terjadi karena gue tau banget bagaimana sakitnya menjadi korban tabrak asmara.

Kuputuskan melakukan kesalahan terjahat yang pernah kulakukan. Meninggalkan dia begitu saja. Kutinggalkan dia. Tanpa pesan tanpa kata, setelah kita berdua sempat sedikit merasakan rasa-rasa indah. Sedikit. Karena gue harus kuat. Gue harus nekat, bila tidak melakukan itu, akan semakin lama penyiksaan yang bakal gue rasa. Percayalah, sakit sekali ketika dia mengecap gue sebagai orang jahat. Orang yang meninggalkan dia begitu saja di keramaian mall Jakarta. Gue adalah orang yang tidak dia duga telah tega melukai perasaannya. harus dengan cara apalagi, karena dia adalah teman gue. Itu saja.

Terserah gue dikata jahat, sontoloyo. Dalam benak gue, harus ada pengorbanan. Gue gak mau menjalani hidup dalam sebuah pilihan.

Dalam hati gue, gue gak merasa melakukan kejahatan. Gue hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk semuanya. Tanpa ada insiden yang dianggap jahat itu, mungkin sampai sekarang, gue akan terkapar dipembaringan meratapi sampai kapan gue berhenti tersakiti. Lebih baik memang harus diakhiri, daripada berlarut-larut dalam kepedihan.

Legowo. Susah memang untuk bisa menerima kenyataan. Setelah pengorbanan yang bagi gue cukup besar itu, dia marah kepada gue. Baiklah, silahkan marah. Dengan begitu akan semakin mempercepat proses keputusan pilihan. Yang pada akhirnya salah satu kandidat terpilih langsung dianggap gugur, tak pantas lagi menjadi calon kekasih. Itu gue. Gue otomatis tereliminasi. Tapi ya sudah lah. Setidaknya tak perlu lagi sakit hati.

Berbuat jahat itu gampang, kata dia, dan memang gampang. Tapi konsekuensi yang didapat bener-bener menusuk jiwa.

Pada akhirnya, biarlah gue dianggap penjahat sepanjang masa. Setidaknya, dia (seharusnya) berbahagia dengan pilihan yang akhirnya menjadi pilihannya.

IMG_0712.JPG

Dan dengan ini, julukan “gue bego kayak naruto” semakin pas bagi gue, gue emang bego kayak naruto… Hahahahaaaa.! Padahal gue sempat jadi Hokage… damn!!!

Hidup itu berputar kok… jadi nyantai ajah men!!!!

 

23.54 11/22/14
Rumahsinggah

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 82 other followers