Romansa #004

•January 21, 2016 • Leave a Comment

Menyebalkan

Sore tadi, kami sudah sepakat janjian jauh hari sebelumnya untuk nonton film yang gue pribadi gak tau musti nonton apaan. Secaranya dia-nya bersabda bahwa semua filem sudah ditonton. Denger statement kayak gitu tuh sakit banget deh hati ini. Seakan akan gue tuh ditinggal sendirian di gurun pasir yang gersang. Bisa gitu ya…. Nonton sendirian. Dan entahlah, kenapa juga akhirnya gue maksa-maksa buat jalan dan nonton. Walopun kondisi masih kere maksimal, tapi bermodal sisa fee editing tempo hari, masih cukup lah ya buat nonton sama makan seadanya. Yup betul seadanya.

Kalo ditanya kenapa judul tulisan kali ini menyebalkan, ya karena gue sebel aja. Di saat gue  udah nyampe Tunjungan Plaza (TP), mendadak dia nelpon kalo dia di Marvell City (MC). Panik lah gue. Tak pernah gue ngajak ketemu di MC, lah ini, dia dengan nyolotnya ngabarin dengan membumbui emosi kalo gue yang tolol dalam hal ini karena ngomong ketemuannya di MC. Udah gitu, saat gue ngabarin kalo gue udah nyampe di TP dan sekalian nyari buku di Gramed sambil nunggu, eh dengan nada tai-nya dia bilang, kalo di TP gak ada Gramed. Nah looh!!! Emosi dong gue. Jelas-jelas gue masih di Gramed dan dia dengan seenak udelnya sendiri bilang di TP ga ada Gramed. Selama 30 Menit berselang, gue di-hectic-kan dengan kelakuannya.

Disaat kondisi gue kesel banget membumbung bumi, mendadak dia muncul di belahan ekskalator sambil menerima panggilan gue. Ternyata gue dikerjain. Dan hal ini gak ada lucu-lucu-nya sama sekali. 

Belum habis sampai disitu, tanpa ada maaf ataupun apa, seakan-akan memang dia gak ada salah, pun tak ada niatan dia untuk menemui gue. Entah dia jalan kemana mencari apa, hingga terpaksa gue yang menyusuri belahan bumi taiwan untuk mencari tai kucing itu.

Dan tau gak, apa komen dia terhadap gue. “Waduuuuh, kamu kok kampungan sih pakaiannya, norak banget! Harusnya bisa melihat kapan dan dimana menyesuaikan baju. Ini di TP, bukan di Sutos.”

Seakan disamber geledek, terus diseruduk kerapan sapi, kemudian mental ke langit dan ditabrak pesawat Garuda Boeing 77777777, baru kali ini gue dibilang norak. Dan itu dari mulut dia. #well gue nahan emosi. Gak bagus ngamuk-ngamuk di depan banyak orang. Apalagi dari jenis dan ras berbeda. Gue hanya nyumpahin dalam hati. Semoga Allah selalu melindunginya dari segala mara bahaya. #tanganmengepal

Tanpa banyak cincong, dia sekali lagi mengacaukan pendirian gue. Yang katanya nonton di Bioskop Tunjungan 5 lah, pindah ke Marvel City lah, makan di food court lah, tai kucing lah, eh btw, kok gue males ngelanjutin nulis yaaa!!?? 

  
Intinya gue kesel. Akhirnya gue nemu film yang bikin dia diem. Yang awalnya sepakat nonton jam 7, sengaja gue ajuin jam 5. Dan efektif membuat dia kesel. Tapi masih belum bisa membayar kekesalan gue yang maksimal kuadrat!

Kencan cap tai kucing ini pun jadi berasa beneran kayak tai kucing. Anget sih, tapi ya gitu, pait! Sepanjang detik setelah nonton bawaannya pengen bunuh. (Hadeeh ntar jadi tipikal yang kebiasaan ngebunuh kalo pas lagi sakit hati). Well, ada kejadian di dalam lift saat hendak keluar mall. Saat hidung gue meler, dia dengan refleks menawari gue freshcare aromatheraphy, dan you Know what, di jemarinya saat dia mengambil freshcare, terdapat pelicin sutra kemasan sachet yang nyangkut. Homok mana yang gak tau kalo itu pelicin. Dilihat dari ekspresi mimik wajahnha sih biasa saja, tapi gue gak bisa dibohongin dengan kekikukannya. Dan otomatis raportnya muncul angka merah. Sekian. Rasa gue mendadak hilang. Tak lagi ada rasa yang menyebalkan. Gue kayaknya mati rasa.

Dia ngajak ke depot makan depannya stasiun pasar turi gue turutin. Dia ngajak Ta’ziah ke ‘mas’ nya yang entah yang kebetulan tutup usia karena sakit komplikasi paru-paru itupun juga gue turutin. 

Hilang tujuan akhir, gue pun diantar “pulang” tanpa tanya olehnya. Sekali lagi dia mencoba untuk tampil menyebalkan, namun kayaknya hati ini sudah terbius untuk tidak bisa merasakan sakit. Terserah dia bilang apa. Gue hanya ingin segera pulang. Dan melupakan kejadian hari ini, namun sebelumnya musti gue tuangkan dulu dalam blog ini. Ya setidaknya kalopun ada hal-hal yang terjadi di kemudian hari, tulisan ini bisa dipertanggungjawabkan. Next, kayaknya gue harus bisa lebih narsis lagi. Karena bukti hanya berupa ucapan dan tulisan gak terlalu kuat. Kuatkan dengan foto atau video. Dijamin akan memberatkan. 

Gue pun berharap dengan tulisan ini, ada yang bisa mengingatkan bahwa gue masih manusia yang seharusnya dimanusiakan. 

Selamat malam….

Advertisements

Romansa #003

•January 17, 2016 • 4 Comments

Dan ternyata dia kesal….

Diantara dini hari dimana gue menulis ini dengan hari hari seminggu sebelum itu, gue meringkas kesimpulan dari runut kesalahan yang gue perbuat terhadapnya. Dia, menyimpulkan (sementara) banyak hal. Pertama, dikiranya saya selingkuh dengan (sebut saja bunga bangke). Karena sking akrabnya gue sama si bunga bangke(bb) ini, lama-lama dia merasa curiga, siapa sih si bb ini. Dikit-dikit sama bb, keluar bentar sama bb, ada perlu sama bb. “Jangan jangan “bojo loro” mu ya yaank?” . Dalam hati pengen rasanya ngeGampar tuh mulut, tapi sayang, ciumannya dahsyat, gue gak mau gara-gara gue dia jadi fakir kissing….

Kedua, beberapa kali gue menolak halus dalam bercinta. Ya bercinta, mereka menyebutnya ml. Iya ML. Making Love. Kenapa? Dan dikiranya, gue adalah penganut faham pacaran sehat. Dimana dalam pengertiannya, gue hanya menjalankan relasi batin, tanpa ada sentuhan ragawi. Alangkah nista-nya diri ini bila mengingkari nikmat Tuhan yang satu itu.  Setiap orang butuh seks. Namun disini takaran dan komposisi kebutuhan masing-masing orang juga pasti beda-beda. Begitu juga level seksualitas adu raga kami berdua. Sangat lah timpang. Dia lebih “ganas”. Mungkin faktor U kali ya? Mungkin…. Iya, tentu saja gue pengidap faktor (kemajemukan) Usia. Dia 4 tahun lebih muda dari gue. 

 
  percintaan kami berdua, dianggapnya sebatas status. Well, gue gak butuh status malah dalam berelasi. Karena cinta itu ibarat aplikasi software yang setiap hari harus di-update terus. Kalo awal-awal musti manual. Kalo udah paham, baru deh dengan tambahan fitur-fitur yang “mengundang”.
Kami berdua berdebat berseru. Dengan santun kami mencegah lamun. Mengutarakan alasan dari gue kepada dia. Menelaah hausnya informasi real. Pelan-pelan mendewasakan. Di pendopo Alun-Alun Gresik. Kami membuang lelah. Masih terasa ada sedak menganga di urat nadi manusia kini.selesi tak selasai harus selasai.

  • Tragedi tak lazim itu dibumbui noda ketidak-percayaan. Gue digiring untuk memahami apa yang ada di dalam isi otak dia.

Sampai ketemu besok-besoknya lagi dalam markas besar nurani kecil…
Romansa ini akan terus berlanjut…. 

Ada ciuman keren yang kami berdua lakukan. Di sebuah kawasan publik. Di sebuah jalan. Kami berciuman. Mesra. Setelah sebelumnya gue berduka.

Romansa #002

•January 12, 2016 • Leave a Comment

Bedakan “rasa” ketika mengobrol lewat tulisan di gadget dengan chat yang sebenar-benarnya. Gue merasakan bener. Ada banyak hal yang bersifat asumsi atau bias interpretasi dari setiap makna kalimat yang disampaikan partner gue ketika kita ngobrol. 

 Entah ngobrolin apa, yang pasti selalu saja ketemu ganjalan-ganjalan kekhawatiran. Dia nulis biasa, gue nangkepnya dengan emosi, dia emosi pun ketika gue nulisnya biasa. Jadi pada akhirnya kita sepakat untuk mendiamkan apabila salah satu terperangkap dalam ruang emosi tingkat tinggi. Atau harus jujur untuk mengungkap diri bahwa sedang kalut dalam jiwa emosional.

Awal tahun ini, masih ketemu bumbu asin. Mungkin gula masih terlalu mahal. Ya setidaknya, rasa asin ini bisa sedikit menghibur kencan kami yang terkadang getir. 

Romansa #001

•January 9, 2016 • Leave a Comment

Hari ini babak baru telah dimulai. Kini tak lagi single. Hampir 3 tahunan menjomblo. Seharusnya gue sudah meluncurkan satu Album, bukan single lagi…. #basilawasjoke-nya.

Awal tahun 2016, gue resmi dipinang anak orang. Yang ngakunya asli Gresik juga. Tapi rasa cintanya melebihi rasa cinta gue terhadap durian. Bener-bener gue dibikin klepek-klepek sama dia. Intinya, seminggu dua minggu gue dibuat dangdutan sama dia. Terakhir gue dibikin galau tak berujung. Ketidak-pasan idea yang saling bertanrakan. Tapi disitulah seni nya.

Well, selamat berjuang gue!!!!

Hidup udah berwarna kini….

Untuk dia yang kini jadi pelabuhan gue…. Amini.

Film ::: Free Birds (2015)

•December 16, 2015 • Leave a Comment

Kalo dulu gue-sampe sekarang-kagum dengan Chicken Run, sekarang pun pada akhirnya mengagumi kisah-kisah di balik dunia perayaman ataupun di lahan peternakan. Berderet film pun tak luput gue tonton, mulai dari Babe, Shaun the sheep, Charlotte’s Web dll (kayaknya gak bisa gue sebutin satu-satu, dan yang terakhir ini adalah film animasi Free Birds. Yah bisa jadi sih, ancang-ancang buat film “Angry Birds” nanti…

Berkisah pada karakter Reggie (Owen Wilson), seekor Ayam jenis Kalkun yang merasa dia adalah makhluk berbeda dari jenisnya. Ada sesuatu yang salah. Tidak semestinya ayam jenis dia selalu dikorbankan setiap tahun untuk memperingati Hari Thanksgiving. Ada yang salah.

Hingga pada akhirnya, takdir membawa dia kepada seorang bocah perempuan putri presiden untuk menemukan sebenernya takdir macam apa yang dia kehendaki. Awal mula, Reggie ditempatkan di Camp Davis, mungkin semacam ritual yang biasa dilakukan petinggi negeri paman sam, menginap dipemondokan untuk beberapa hari. Dan dari situlah awal petualangan Reggie. 

  
Disaat dia sedang hepi-hepinya menikmati segala fasilitas yang ada, mulai dari nonton tv hingga order pizza(gak usah heran, namanya juga film animasi), mendadak Reggie diculik dan dipaksa untuk menjalankan misi rahasia. Yaitu misi yang sama dengan harapan dan cita-cita Reggie, untuk mengubah kebiasaan manusia mengkonsumsi daging ayam kalkun di hari Thanksgiving. 

  
Penculik misterius itu bernama Jake(Woody Harrelson), dan dia Kalkun juga. Namun secara fisik jauh beda dengan fisik Reggie yang kurus ceking, disini digambarkan bahwa Jake adalah golongan Kalkun petarung(maybe). Dengan segala tindak tanduk dengan sesekali konyol prilakunya, Jake menjelaskan kepada Reggie, bahwa dia adalah utusan “Turkey the Great” yang mengabarkan bahwa Jake harus menemui Kalkun kurus berkepala biru yang cerdas, yang tak lain dan tak bukan adalah Reggie. Mendengar hal konyol itu pun, Reggie yang sedari awal sudah tidak percaya dengan kemunculan Jake semakin menyepelekan Jake. Namun keadaan menjadi berubah tatkala bahwa akan ada mesin waktu yang akan membawa keduanya ke masa dimana manusia akan memperingati perayaan thanksgiving untuk pertama kalinya. Dan dengan keterpaksaan, Reggie pun akhirnya menjelajahi waktu bersama Jake untuk sebuah misi berubahan demi kemaslahatan umat Kalkun di dunia.

Menonton film ini gue sengaja untuk mengubur ekspektasi dalam-dalam. Bagaimanapun juga, film ini tidak “menjual” apapun. Bahkan promo pun apalah-apalah. Tau film ini pun cuman dari bioskop yang sengaja mamerin poster film ini tapi gak ada kejelasan kapan tayangnya. Yah, mungkin nasib film ini yang dirilis pada bulan dan tahun yang salah.

   
   
Film ini tidak jelek, pun tidak bisa dibilang bagus pula. Ini film biasa yang kalaupun kita tidak bisa/jadi nonton juga gak bakal nyesel-nyesel amat. Tidak ada yang baru dalam teknik animasinya. Mungkin untuk segi cerita dan karakter-karakternya tidak terlalu bisa dibilang wow. Kecuali penampilan suara(dubber) George Takai sebagai S.T.E.V.E yang notabene adalah mesin penjelajah waktu. Semua movie lover pasti tau siapa si George Takai, tak perlu pula juga gue ngejelasin mengapa dia mau untuk menjadi pengisi suara S.T.E.V.E.

  Ada scene yang emang bikin gue awkward tapi ngakak pada saat Reggie berhasil meloloskan diri dari kejaran pemburu bersama Jenny (Amy Poehler), mendadak mata kiri Jenny “lepas kendali”. Gue sebagai Reggie pun bisa jadi illfill sesaat. 

  
Film ini bisa dibilang film tentang Bromance… Hubungan yang akhirnya akrab antara Jake dengan Reggie. Bagaimana keduanya menjadi satu untuk tujuan yang satu. Pun akhirnya gue menyimpulkan sendiri, apakah Jake Menyukai Ranger, Brother-nya Jenny, yang tubuhnya kekar, gahar dan sangar? Karena beberapa kali scene nampak jelas ada chemistry tersembunyi diantara kedua insan kalkun tersebut. Well, hanya penulis cerita dan sutradaranya yang tau… Bagaimanapun, memperkenalkan konsep-konsep homoerotika pada film animasi juga bukan suatu kesalahan. Tapi bisa dijadikan pembelajaran untuk tujuan yang positif. 

 Well, pada akhirnya, film ini bukan saja tentang Kalkun, tentang perjuangan rakyat Kalkun, atau tentang Thanksgiving, film ini bagi saya adalah tentang bagaimana kita bisa menjadi vegetarian…. BECAUSE I’M VEGETARIAN….. (2,5/5)

Film ::: Dog Day Afternoon(1975)

•December 11, 2015 • Leave a Comment

“Kiss me. When I’m being fucked, I like to get kissed a lot.”   – Sonny.

 Sampai sekarang gue masih belum tahu, kenapa film ini diberi judul seperti diatas. Dog day afternoon, apakah karena di film yang settingnya berlangsung satu hari ini terlalu banyak sumpah serapahnya yang dilontarkan Sonny Wortzik(Al Pacino). Entah lah, yang pasti, gue cukup bisa sabar menikmati film yang durasinya kurang lebih 2 jam. Malahan, bisa dibilang, ini film penuh dengan keringat, membuat gue merasa lapar dan ketakutan karena seakan-akan disandera oleh Al Pacino. Yang dalam waktu bersamaan pun membuat gue jatuh cinta kepadanya. Culik gue, bawa gue bersamamu, ke Aljazair….

Al Pacino sepertinya terlahir dengan kharisma yang cakep-cakep nyebelin tapi ngangenin. Baru kali ini, gue menikmati filmnya pada saat dia berusia muda. Ya kalau dibandingkan dengan aktor sekarang, mungkin seumuran dengan Liam Hemsworth, atau bisa jadi lebih muda. Setidaknya, tulisan ini gue tulis, dia sudah berumur sekitar 75 tahunan.

Cerita berkisah pada sore hari di sebuah bank kecil di sudut kota Brooklyn, New York. Tidak ada yang menyangka bahwa telah terjadi perampokan bank oleh Sonny dan Sal (John Cazale). Awalnya mereka bertiga, rupanya salah satu diantaranya memilih mengundurkan diri. Sehingga cuman mereka berdua yang terus melanjutkan aksi perampokannya. Yang pada akhirnya, rencana demi rencana pelan-pelan berubah. Para sandera yang semula ketakutan, pelan-pelan memahami karakter Sonny. Secara tidak mereka sadari muncul rasa simpatik pada para perampok tersebut. Terjalin lah komunikasi janggal yang memutar balikkan nurani. Pasifnya Sal, dan Carut marutnya otak pikiran Sonny menjadi konflik tersendiri untuk film yang ternyata berdasar dari kisah benar. Hingga gue digiring pada ujung film yang membuat gue nangis absurd. Apakah gue harus bangga dengan keberanian Sonny? Atas pilihannya? Yang dipertengahan film gue dikejutkan dengan fakta menarik bahwa Sonny adalah penganut pemahaman Sexual fluidity.

Film ini dengan maskulinitasnya mengungkap tema homoseksual secara implisit. Dibahas untuk tidak dibahas. Ditempel tetapi tidak untuk menempel. Tapi justru bahasan dan tempelan ini yang menjadi inti cerita  di sepanjang film.

Dan pastinya, film ini tentu saja akan sangat dimungkinkan untuk menjadi kontroversial dijamannya. Well, jangan berharap nemu adegan kissing atau ml-nya Al Pacino dengan laki-laki atau dengan transgender/transeksual. Walaupun sepanjang film selalu dihiasi polisi, gue menganggap bahwa Dog Day Afternoon adalah film drama, bukan film Action.

 Kita bakal banyak menemukan sindiran-sindiran khas Amerika di film ini. Dan yang patut digaris bawahi perihal isu homoseksual-nya. Bagaimana pada tahun 1975, isu LGBT tidak seperti sekarang, di Amerika masih diperjuangkan dan bisa jadi sudah banyak memakan korban atas nama diskriminasi dan ketidak-adilan terhadap kelompok LGBT. Bahkan Sal sendiri, yang notabene menjadi partner in crime (dalam arti sebenernya) Sonny, menolak keras bila disebut media/pers sebagai homoseksual sama seperti Sonny. Dan benar. Karakter Sal entah kenapa mengingatkan gue pada karakter Anton Chigurh di film No Country for Old Men(2007). Namun yang menjadi pertanyaan gue sekarang, berarti ada semacam legalisasi terselubung terkait pernikahan sesama jenis yang dilakukan oleh Sonny dan Leon(yang sudah dinikahi Sonny) Atau kah pernikahan tersebut hanya rekayasa? Hanya Sonny asli yang tau.

 Pada akhirnya gue tersadar, Al Pacino di saat masih muda ternyata sangat charming dan keren abiss… Mungkin setelah film ini, kayaknya gue bakalan hunting film-film dia. Tentu saja pas dia masih muda. Gue rasa, kayaknya film ini menjadi pioneer film-film yang bertema perampokan. Yang pasti film ini bakal akan terasa berbeda, bila gue nontonnya disaat film rilis awal. Two thumbs buat akting menawannya Al Pacino…… Salut untuk Sidney Lumet atas penyutradaraannya… (4/5)

Cerpen ::: Jalan Pahlawan

•October 28, 2015 • 1 Comment

“Kalau lewat Jalan Pahlawan jangan ngebut! Angker!”

Kalimat itu terlalu familiar bagi kami, penduduk sekitar Jalan Pahlawan yang sudah puluhan tahun hidup dengan urban legend yang konon muncul karena seringnya terjadi kecelakaan di sepanjang jalan yang masih dalam kawasan pabrik-pabrik besar penghasil tekstil hingga material bangunan. Jalan Pahlawan memang dikenal sebagai jalan maut. Sudah tidak terhitung jumlahnya berapa nyawa yang melayang sia-sia di jalanan tersebut. Mulai dari korban anak kecil, remaja, ibu-ibu hingga beberapa lansia. Banyak yang bilang, karena kebanyakan dari mereka tidak mendengarkan nasihat untuk jangan mengebut. Memang, kebanyakan yang menjadi korban adalah bukan penduduk sekitar lokasi. Mereka berasal dari luar daerah yang mungkin kebetulan lewat. Karena Jalan Pahlawan adalah satu-satunya akses penghubung antar dua daerah.

Banyak yang bilang, Jalan Pahlawan itu bekas areal perkuburan. Kuburan massal korban perang di masa penjajahan Jepang. Walau kenyataannya sekarang, jalan tersebut tidak seseram dulu. Sudah banyak pabrik dibangun, namun masih saja banyak yang takut dan berpikir seribu kali untuk melewatinya. Mereka lebih memilih ngebut apabila jalan sendiri di sepanjang Jalan Pahlawan apabila kondisinya sepi. “Daripada nanti ada apa-apa!” begitulah alasannya.

Sempat ada cerita, suatu malam menjelang dini hari, karyawan pabrik yang pulang sendirian melihat sekelompok barisan tentara Jepang yang sedang latihan baris berbaris, selintas pemandangan itu membuat karyawan pabrik tersebut menjadi bernyali ciut. sudah tentu panik, ketakutan dan kemudian pecah konsentrasi yang akhirnya oleng dan menabrak pohon Jarak. Upayanya untuk tetap terkendali, seakan-akan tidak ada daya, raganya seperti ada yang mengontrol. Memang terlihat janggal, ngebut di jalanan sepi, tidak ada kompetitor, kendaraan besar tidak ada yang masuk keluar. Banyak yang mengaitkan dengan hal-hal klenik. “Salah sendiri ngebut di jalan itu!”

“Kabarnya kepala karyawan pabrik itu pecah!”

“Salah sendiri, sudah ngebut gak pake helm pula!”

“Memangnya dia gak tau ya kalo jalanan disitu angker!”

“Ini bukan masalah angker atau tidak. Coba kalo dia gak ngebut dan pake helm!”

“Alasan dia ngebut kan gara-gara tempat itu angker, coba kalo gak angker, dia kayaknya gak bakalan ngebut!”

“Ah, kalo saya lebih baik ketemu hantu dari pada nantinya malah jadi hantu di tempat itu!”

“Jadi kamu gak takut lewat situ?”

“Sebenernya sih takut, makanya saya selalu ngajak kamu kalo lewat situ!”

“Dasar!!!”

Suatu hari, ada selentingan kabar. Seorang ibu muda dengan membonceng anaknya tewas mengenas di Jalan Pahlawan. Tubuh ibu dan anak itu terlindas roda pengangkut material bahan semen. Hancur tidak berbentuk, terlebih kondisi fisik anaknya. Memprihatinkan. Lagi-lagi yang dijadikan tersangka adalah bapak-bapak yang sudah puluhan tahun bekerja sebagai sopir di pabrik yang sebentar lagi selesai masa kontraknya. Menurut pengakuannya, saat dia hendak keluar dari lokasi pabrik, jalanan nampak lengang. Di siang bolong yang lumayan menyengat panasnya, tidak mungkin dia tertipu dengan fatamorgana. Sudah hapal dia dengan situasi yang menjadi rutinitas jalanan tersebut. Jam sekian siapa saja yang lewat, kapan konvoi buruh pabrik yang bubaran kerja dan juga aksi ugal-ugalan pelajar yang sangat meresahkan. Sehingga cukup dipertanyakan pula kesalahan yang dituduhkan kepada Pak Badri, sopir truk itu. Entah kasus itu sudah sampai mana pengusutannya, kabarnya sekarang pak Badri sudah tidak lagi terlihat jambang brewoknya di Jalan Pahlawan. Dan beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, sudah mulai beredar cerita tentang dongeng sosok hantu perempuan yang nampak sedang mencari sesuatu di pinggir trotoar di sepanjang Jalan Pahlawan.

Pernah juga saya menjadi saksi mata sendiri, sebuah kejadian yang membuat saya tidak bisa tidur selama dua hari tiga malam. Sehabis pulang dari nonton bioskop di bilangan kota Surabaya, saya dan Ardhi, teman saya, melewati Jalan Pahlawan, yang memang sudah menjadi pilihan kami untuk kembali pulang. Jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Kami berjalan cukup pelan, karena memang sengaja untuk mengetes keberadaan. Apakah ada penampakan seperti yang santer diceritakan. Walau ujung-ujungnya jantung dag dig dug tak karuan. Kami masing-masing ketakutan hanya dalam perasaan, meski raut wajah terpasang muka cengengesan.

Ternyata ada keramaian di sepanjang jalan. Puluhan muda-mudi nampaknya menggelar aksi trek-trekan sepeda motor protolan. Mungkin sengaja memilih jam malam karena dirasa sepi dari keadaan dan pantauan aparat. Padahal masih ada satu-dua kendaraan yang berlalu lalang. Ardhi dan saya sepakat berhenti. Tertarik untuk mengamati. Mungkin diantara segelintir pemuda ini ada yang kami kenali. Nyatanya tak satupun dari mereka teman pergaulan kami.

Dari jauh kami menyaksikan sepeda motor yang tinggal tulang rangka beradu balap. Mesin menyala. si kurus ceking berdiri di tengah-tengah memberi aba-aba. Bendera dikibarkan. Kedua motor melaju. Kencang. Yang satu memakai helm hitam sementara satu lagi tanpa menggunakan helm dengan rambut panjang diikat karet gelang. Sayup suara kedua pembalap karbitan itu menghilang ditelan malam. Dan beberapa menit kemudian kembali pada garis start pemuda ber-helm hitam. Sambil tergopoh-gopoh dia melepas pelindung kepalanya. Nyatanya perempuan yang kami lihat bila ditatap dari penampilan. Sambil panik dia mengatakan kalau lawan tandingnya terpelanting keluar jalan. Berhamburan lah seketika mereka menuju lokasi kejadian. Termasuk kami berdua. tanpa bermaksud latah.

Pemandangan yang mengerikan. Terdengar suara lolongan tangisan merintih kesakitan. Di balik semak-semak pemuda berambut panjang yang diikat karet gelang itu tergeletak dengan kedua kaki yang patah retak. Tulang keringnya keluar menembus kulit menyeruak. Darah merah membasahi jeans belel warna biru pudar. Kulit kepalanya mengelupas sehingga tulang tengkoraknya terlihat jelas. Matanya merah menyala tertutup oleh darah. Semuanya ketakutan. Ada yang berteriak-teriak telpon ambulan. Semuanya ketakutan. Ada yang terdiam sambil terduduk sesenggukan. Semuanya ketakutan. Ada yang kabur meninggalkan korban. Semuanya ketakutan. Begitu pun kami berdua. Sama-sama ketakutan. Kami berlalu sambil mengabarkan kepada orang-orang yang kebetulan kami papaskan,

“Ada kecelakaan mas! Tolong telpon ambulan!”

Semenjak peristiwa itu, saya memilih merebahkan diri di dalam kamar. Memudarkan memori yang selalu membuat saya malas dan enggan untuk menikmati makanan selama beberapa hari.

Kalau diperhatikan. Banyak sekali kecelakaan yang terjadi disebabkan karena kondisi personal yang tidak mengutamakan keselamatan diri dalam pengendara. Menyepelekan fungsi helm, kebut-kebutan. Dan juga meniadakan tata tertib berkendaraan yang lain. Sangat fatal untuk diabaikan. Dengan alasan lumrah, lokasi tujuan yang dekat, tidak ada polisi, bahkan alasan gerah menggunakan helm sering menjadi penyebab kecelakaan yang berbanding terbalik dari alasan yang lumrah tadi. Walau masih banyak juga yang menjadikan alasan angker sebagai hal utama yang patut untuk dipersalahkan.
Sepengalaman saya menjadi pengguna Jalan Pahlawan, belum pernah ketemu apa yang namanya penampakan hantu atau setan. Walaupun begitu, bukan berarti saya berharap untuk bisa ketemu. Entah lah. Saya berada pada dua keyakinan. Antara mengakui keberadaan dunia astral dengan tidak mau ambil pusing atas eksistensi makhluk astral yang tentu saja karena alasannya satu. Takut. Namun kembali kepada pernyataan yang pernah saya lontarkan. Lebih baik saya ketemu hantu dari pada menjadi hantu lantaran melanggar peraturan lalu lintas. Toh, selama ini, sampai detik ini, saya tidak pernah ketemu hantu. Lama-lama saya pun—mungkin tidak lagi percaya hantu. Lagipula saya sudah terlalu lama berpikir dengan logika. Logika berpikir yang semestinya digunakan oleh pengguna jalan lain apabila hendak berkendara.

Pernah suatu ketika, saya taruhan dengan seorang teman. Dia optimis dan yakin bahwa dengan menggunakan helm-pun seseorang bisa menjadi korban di Jalan Pahlawan. Praktis saya tidak sepakat dengan kondisi tersebut. Memang, dengan menggunakan helm tidak bisa menjadi patokan seseorang apakah dia bisa lolos dari maut atau tidak. Karena sejatinya yang menjadi penyebab kecelakaan itu sendiri ada dua faktor. Pertama, bagaimana seseorang mendisiplinkan diri dalam berkendara dan yang kedua adalah karena faktor ketidakberuntungan. Untuk faktor yang kedua ini, tak ada satupun manusia yang bisa mengaturnya. Namun, faktor pertama bisa menjadi katalisator seseorang supaya terhindar dari ketidakberuntungan tersebut. Jadi sesungguhnya, setiap manusia masih punya kesempatan untuk terhindar dari kecelakaan lalu lintas kalau saja mau mematuhi tata tertib berkendara.

Dan sekitar dua bulanan semenjak pertaruhan, tak pernah sekalipun terjadi kecelakaan. Jalan Pahlawan seakan-akan mendengar atas apa yang kami obrolkan. Sesuai perjanjian, selang dua bulan, bila tidak terjadi kecelakaan, saya dalam hal ini yang dimenangkan. Satu minggu berturut-turut, saya dirajakan. Antar jemput ke tempat kerjaan. Makan siang dan makan malam selalu di rumah makan tanpa mengeluarkan biaya tagihan pembayaran. Dan sebuah helm standar warna merah yang sengaja dihadiahkan kepada saya sebagai bentuk ironi dalam menyigapi apa yang telah kami lakukan selama ini. Kebetulan sekali, helm saya kacanya sudah tidak berfungsi. Hampir lepas. Yang terpaksa saya tempeli lakban agar tidak melorot. Janji berulang kali dalam diri untuk membeli helm rupanya didengar oleh teman saya. “Rejeki anak soleh,” celetuk dia.

Membahas Jalan Pahlawan memang tidak akan pernah ada ujungnya. Terlebih kalau disangkutpautkan dengan urusan nyawa. Seakan-akan bukan Jalan Pahlawan namanya kalau tidak memakan korban. Seperti kejadian baru-baru ini…

Malam itu…

Saya kebetulan mendapat tugas untuk membeli nasi goreng buat makan malam kami sekeluarga. Seperti layaknya keluarga harmonis yang lain, kami mempunyai langganan penjual nasi goreng yang menurut kami enak dan layak dijadikan rujukan. Sebenarnya jarak antara rumah dengan penjual nasi goreng tersebut dekat, hanya melewati sepanjang Jalan Pahlawan. Tidak membutuhkan waktu kurang lebih 5 menit untuk bisa sampai ke lokasi. Namun yang menjadikan lama malam itu adalah, helm merah saya hilang. Entah siapa yang mengambil. Sempat marah dan mogok jalan. Ayah menyarankan tidak perlu memakai helm, sementara ibu marah-marah dan tidak setuju kalau saya tidak menggunakan helm. Namun kali ini, ego saya menang. Sebagai bentuk bukti kedangkalan otak saya dalam pertarungan nurani. Emosi saya membuncah. Memilih membawa sepeda motor tanpa menggunakan helm. Dongkol mendalam dengan dihiasi sumpah serapah kepada siapapun yang telah mengambil helm kesayangan saya. Kalau bukan mas Abbas pasti mbak Susi. Siapa lagi!

Motor saya hidupkan. Sengaja saya starter kencang-kencang, sebagai bukti bahwa emosi menguasai diri. Ayah tak peduli. Ibu hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan anak bungsunya.

Di sepanjang jalan saya mengebut tanpa alasan. Bayangan akan hantu-hantu gentayangan tidak terpikirkan. Yang menyeruak hanya rasa kesal yang teramat sangat. Sesekali saya berteriak. Berharap kekesalan ini terhempas bersama hembusan angin malam yang saya terabas tanpa batas.

Konsentrasi bukan pada bagaimana saya bisa sampai ke tujuan. Hanya terfokus pada bagaimana saya bisa mengebut penuh sahaja. Berharap punya kuasa agar jalanan tunduk pada putra dunia yang dirundung dendam. Memang ini masalah sepele. Hanya karena helm yang entah dibawa siapa. Sehingga bisa dengan sekejap mengubah karakter seseorang. Karakter saya. Malam itu menjadi malam yang terpanjang diantara malam-malam saya yang lain.

Waktu pun berlalu. Penguasa semesta pun tahu bahwa kini saya bukan lagi sang pemberang yang tak tahu malu. Saya bukan lagi yang seperti dulu. Yang terlalu sering membicarakan hantu dan penampakan tentara jepang di sepanjang Jalan Pahlawan. yang sering membicarakan kematian dan ketidakberuntungan. Yang kini ngilu dalam rindu sebagai wujud dari manusia utuh yang dulu pernah berjanji untuk selalu patuh dan peduli terhadap nyawa yang hanya satu ini.

Kini, saya lah bagian dari cerita itu. Saya lah bagian dari kematian itu. Bagian dari ketidakberuntungan itu. Bagian dari jiwa yang pernah membuncah oleh emosi sekilas namun berakibat kekal.

Kabar ceritanya, tubuh saya ditemukan terkapar tanpa nyawa di tengah jalan dengan kondisi kepala pecah. Tidak ada yang mengetahui pasti apa penyebabnya. Ada yang bilang tabrak lari. Namun banyak yang bilang, saya mati karena ditabrak truk gandeng yang memuat biji besi.

“Kalau sudah begini, apakah kamu masih terus menerus menyalahkan kami?”

Gresik, 28 Oktober 2015

*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com