Catatan kriminal suci

•October 1, 2015 • Leave a Comment

Well…. Sekian bulan, entah berapa bulan… Hmmm terhitung dari bulan Juni, hingga gue menulis di blog ini…. Absen. Ya, gue absen menulis apapun di blog ini. Entah itu review film, artikel klenik, cercaan pada sebuah peristiwa yang layak dikritisi hingga sastra picisan yang hanya ditulis bila sedang kambuh feel menulisnya. 

Masih sering bingung. Fakta pertama, sekembalinya dari Jakarta, status gue masih perawan ting-ting, belum menjamah profesi yang seharusnya sudah gue jamah jauh jauh hari. Nyatanya, pekerjaan yang biasa gue lakoni di Jakarta masih awam untuk gue jadikan andalan. Dan itu sangat pedih dan menyakitkan. Sungguh… Itu pedih. Tapi namanya juga gue, sepedih-pedihnya perasaan, harus selalu dibawa senang. Termasuk membuat orang jadi senang pula. Bukan karena bakat gue sebagai lelaki penghibur yang terlalu kuat, melainkan karena saya menganggap bahwa senang itu bahagia, bahagia itu awet muda. Jadi kalau mau awet muda, bersenang-senanglah.

Tak punya catatan kriminal. Di Gresik lempeng-lempeng saja. Itu itu saja. Membosankan? Banget… Nget. 

Mungkin gue merasa terlalu banyak rencana dan lebih banyak gegabah. Jatuhnya pun hanya mimpi-mimpi yang lewat saja. Seperti halnya, rencana membuka bisnis clothing, dengan merek yang sudah gue siapkan dari Jakarta, eh, ujung-ujungnya, malah gak ada jejak. Hilang ditelan iler. Gue akui, moment pulang kampung ini lebih banyak berisi proses healing dari penjara pesakitan selama di Jakarta. Menjadi korban kekejaman hedonitas dan sosialita kelas dagu ngangkat. Giliran sudah sekarat, baru sadar, bahwa kontrol atas tubuh (baca: kesehatan jiwa dan raga) tidak terkendali. Apa saja dilahap mentah-mentah dan serampangan. Apa saja masuk. Ban dalam mobil pun kalau dimakan pasti gue makan saat itu. (Seperti biasanya, penyesalan selalu datang terlambat…. Gak pernah datang diawal keluh kesah).

Balik lagi soal cita-cita, siapa sih orang yang gak punya cita-cita atau angan-angan di dunia ini? Semua pasti punya. Termasuk gue. Dan paling membahagiakan itu, andai kata cita-cita yang sudah kita impikan dari awal rupa-rupanya terkabul karena niat dan kerja keras. Tapi yang menjadi pertanyaan sekarang, sampai sejauh mana level atau kadar cita-cita kita? Apakah masih dalam batas awal, atau sudah diambang keberhasilan… Syukur-syukur sudah berpindah cita-cita yang lainnya. Bersyukur tentu saja.

Kadang yang menjadikan cita-cita itu bengal untuk menghampiri karena kita terlalu memberikan persyaratan yang terlalu berat. Misalkan saja, cita-cita yang kadang diluar nalar manusia kebanyakan. Kalo gue merasakannya, disaat gue masih SD, dan cita-cita gue membunuhi semua orang-orang yang telah membully gue. Walaupun dulu definisi membunuh itu harus bagaimana saja masih belum jelas. Yang jelas mengeluarkan emosi di diri yang membuncah dengan kalimat, “Akan kubunuh kalian” seakan memberikan suntikan kekuatan. Namun dulu masih belum kenal apa itu HAM, apa itu keadilan. Yang penting hajar aja dulu, sebelum “kriminal” nya sudah tidak musim lagi. An sudah lah, akan kembali kelam jika gue menceritakan pengalaman semasa kecil. Terlalu pahit untuk dijadikan pembangkit gairah.

Rupa-rupanya sudah mulai hilang konsep nih. Lajur kriminalitas yang dulu akrab dengan gue mulai pudar. Dengan berbekal pengalaman masa lalu, gue sudah bisa sedikit menyimpulkan. 

Terlalu banyak tahu orang-orangnya, hingga yang tidak tahu menjadi tahu…

Mungkin kedepannya, gue akan lebih fokus ke videographer….videographer….VIDEOGRAPHER.. And the one and onli, jadi begini ceritanya….

  

Rahasia

•July 30, 2015 • Leave a Comment

I LOVE YOU MOM… kalimat tersebut yang pantas untuk mengawali tulisan gue kali inI……..

Ada apa dengan gue? Mendadak ai lov yu mom… Bukan apa-apa. Tak ada faktor khusus. Hanya karena teringat akan banyak hal yang punya korelasi dengan andil beliau. Apalah siapa gue ini diartikan untuk sebanding dengan jasa beliau terhadap gue. Nothing. Gak ada apa-apanya.

Di usia yang sudah tidak muda lagi, gue ngerasakan hal-hal yang mungkin berdampak pada konstruksi pemikiran gue yang agak ruwet sedikit. Masih ada sisa rasa perasaan bersalah karena dulu-dulu-nya gue pernah punya trauma yang tak seorang pun tahu apa itu, tidak juga disini. Merahasiakan dari semuanya termasuk dari beliau sungguh-sungguh melelahkan. 

Masa Kanak-kanak tidak lebih sebagai masa penggemblengan gue untuk menjadi sosok yang tangguh. Yang prosesnya ternyata kalo gue itung-itung membutuhkan waktu 12 tahun. SD-SMP-STM…. TAPI TUNGGU DULU… Jangan disalah artikan penggemblengan model apa yaa… BULLY… Titik.

Beberapa waktu yang lalu, gue sempat ngobrol ngalur ngidul sama ibuk. Beliau cerita banyak hal. Namun kebanyakan berbagi cerita tentang masa lalu (kecil) nya. Dan juga saat-saat menjalani biduk rumah tangga dengan suaminya (bapak gue). Ternyata banyak fakta yang terungkap. Sehingga gue terpaksa mengambil kesimpulan, mengapa dia bisa menjadi ibuk gue seperti yang sekarang. Masa kecilnya bener-bener suram. Semakin suram ketika dia dijodohkan (awal)nya dengan bapak gue. Bagaimana dia harus survive menghadapi model-model karakter baru di dalam hidupnya. Terutama menghadapi mertua dan ipar-iparnya.

Sempat kesal dan gereget mendengar ceritanya. Dari awal sampe akhir gue tak mendengar perubahan nada bercerita. Sepertinya ibuk sudah terbiasa dengan kesedihan yang telah diungkapkan kepada gue. Beliau malah menasehati gue supaya tidak terlalu vokal untuk menghadapi dedemitism yang menjadi faham dari dinasti asal bapak gue.

Well, hal yang patut gue syukuri, akhirnya ibuk bisa bercerita. Sempat dia berkata, bahwa tak pernah beliau dengan sesiapapun anak-nya menceritakan kisah kecutnya tersebut. 

Inilah, kadang kenakalan beliau sampai sekarang masih belum bisa gue terima, tetapi setelah mendengar kisah-kisah super-nya, gue jadi sadar. Setiap manusia punya cara sendiri-sendiri untuk menjadi kuat. Dan di balik itu semua, ada rahasia besar yang menanti gue. Sebuah rahasia.

  

Refleksi (bukan semacam pijat)

•July 18, 2015 • Leave a Comment

setelah bulan itu (Juni) saya beranjak meninggalkan Jakarta, menuju kampung halaman yang tidak layak disebut mudik. Lebih tepatnya pulang kampung tanpa harus kembali lagi ke Jakarta. Keputusan sulit namun harus ditempuh. 

Sedih sih. Namun gak harus sambil ditangisi pula. Terlalu manis kalau dilema kali ini harus dibumbui dengan drama tangisan tante Sandora. Tidak ada tangis-tangisan. Tidak ada mewek-mewekan. Yang ada K Z L… Kezeeeel

Pertanyaannya, kenapa bisa kesel? Ya selalu ada alasan untuk kita menjawab sebuah pertanyaan atas kekesalan yang kita alami. Hmmm kita atau saya (seorang) ?…

Entah kenapa berat bagi saya untuk bisa berbagi cerita terkait alasan-alasan kenapa saya memutuskan pindah raga ke tanah Jawi. BANYAK FAKTOR SAY!!!! Apa perlu saya bikin daftar alasan-alasan terkait mengapa saya pindah pulang kampung. Tapi sejenak saya berpikir dari lubuk hati terdalam, ada suara kecil di batin saya untuk memilih berdiam tanpa mengurusi keimanan/ keyakinan yang berkaitan dengan #mudik

TIDAK

Kayaknya saya memang harus menyimpan rapat-rapat informasi ini. #hasilrefleksimalamini #gagalberbagi #nunggukuatmental #masih musimsensitif

Anonymous | Shopping

•April 28, 2015 • Leave a Comment

Ceritanya nih, habis ngobrol hancur sama temen gue yang masih berprinsip bahwa membelanjakan sesuatu itu hanya berdasarkan kebutuhan saja. Hal-hal di luar kebutuhan yang kiranya tidak terlalu penting sebaiknya tidak perlu juga dinomorsatukan. Itu berbeda sedikit dengan apa yang selama ini gue prinsipkan. kalo bagi gue, selama barang yang gak penting itu ternyata bisa “menyelamatkan” kebutuhan atas dasar, siapa tahu nanti butuh, jadinya gue fine-fine ajah untuk membeli barang tersebut.

Tapi ganjaran dari prinsip yang gue pake adalah, banyak barang numpuk yang menunggu untuk dibutuhkan. di lain sisi makan tempat dan keburu rusak sebelum dipakai, di lain sisi akan ada moment “AHA” yang menyelamatkan situasi gue yang tidak kondusif.

Belanja atau shopping sangat berbeda konteksnya dengan hanya sekedar window shopping aka cuci mata. Namun banyak pengalaman yang gue alami, bahwa dua kegiatan tersebut pada akhirnya menjadi bias dan semakin mirip satu sama lain. Bilangnya belanja tapi nyatanya cuman jalan-jalan… bilangnya jalan-jalan aja, tapi pulang-pulang udah bawa banyak tentengan di tangan. So…. gak penting banget sih, rencana kita apa, mau dibilang shopping atau cuma walking-walking… yang penting gak merugikan orang lain…

and check it out…

Film ::: The Sun, The Moon & The Hurricane (2014)

•April 3, 2015 • 4 Comments

02c1bf1247c3b2eb62886363963cc92f
Sudah lama rasanya, gue, habis nonton film Indonesia, langsung debat (mungkin lebih tepatnya diskusi) terkait film yang habis gue tonton. Dalam hal ini yang gue debatkan bareng temen adalah film yang memang niat mengangkat isu yang “rentan” untuk dijadikan “box Office” di seantero gedung sinema Indonesia. Yang gue tangkep adalah, semua tentang pencarian tujuan hidup. Tapi mutlak, tidak menutup tema yang diusung adalah homoseksualitas, tentang rasa, dalam kaitannya disini adalah karena memang yang dijadikan senjata dalam film ini sendiri adalah isu tersebut. Alhasil, bunuh diri bagi sang produser kalo “menjual” film yang bertema homoseksual ke bioskop-bioskop negeri kita tercinta. Dan alhasil yang kedua, jadilah film ini film yang festival banget. Yup… film festival.. pake banget. Karena akan seperti mimpi kalo film yang bergenre (full) homoseksual nampang di semua layar biosop.

*Berterima kasih gue sama Blitzmegaplex yang dengan sudi menyediakan alokasi tempat untuk memutar film-film Indonesia dengan isu yang sulit untuk diangkat

Gue tidak terlalu mengenal siapa Andri Cung, The Director. Cuman gue dulu pernah dengar namanya lewat film Payung Merah dan salah satu director dalam antologi 3SUM. Tapi usahanya kali ini patut diacungi jempol.

Sebagai seorang gay, yang kebetulan suka banget sama film, tema yang diangkat dalam film ini layaknya sumber mata air di padang pasir yang gersang. Sangat menghapus dahaga yang teramat sangat menghauskan. Ya.. menghauskan… sangat menghauskan…

Seteguk pertama…
Gue tau film ini muncul dari kicauan-kicauan di twitter. Terkadang sesekali gue stalking, manusia-manusia ataupun mesin-mesin yang hobi posting sesuatu yang berbau LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex and Q). Dan muncul-lah secuplik trailer film ini. Kesan pertama…. SOK BANGET PAKE BAHASA INGGRIS…. PASTI FILM FESTIVAL….. KAYAKNYA NUNGGU Q!FEST… DARI POTONGAN GAMBARNYA SIH MEYAKINKAN… HMMM KITA LIAT AJA NANTI!!!

Tegukan kedua….
Alamat…..deh!!!! ternyata memang film festival. Bakalan berdarah-darah dan harus punya waktu khusus nih buat nonton film ini. Beberapa kali kesempatan yang datang, baru tadi malam lah gue bisa nonton. Ini bukan salah filmnya yang terbatas waktu dan tempat pemutarannya, tapi ini salah gue yang berada di ruang dan waktu yang selalu berbatas dengan film ini. Rasanya tuh seperti, haus dengan dua kali tegukan segelas air.
Dan akhirnya menceburkan diri ke sumber mata air….

The-Sun-The-Moon-3Kita akan dibawa pada kisah klasik seorang muda yang bernama Rain. Mengalami masa-masa SMA yang tidak biasa dialami oleh kawan-kawan sebaya-nya. Awalnya menjalin relasi ala-ala Bromance dengan Kris, teman sekolahnya. Keakraban mereka berdua, melebihi kedekatan seorang remaja yang heboh dengan fase cinta-cintaannya.

Diberikan kita sepenggal pengalaman perih Rain ketika harus dihadapkan pada kegelisahan-kegelisahan atas relasi bias yang sudah dijalaninya bersama Kris. Yang jelas, Rain tau siapa Kris, dan Kris belum siap untuk tau siapa dirinya sebenarnya. Yang pada akhirnya, ketidak siapan itu berbuah kepahitan.

Kris menghilang… terbang meninggalkan Rain dengan beberapa pertanyaan-pertanyaan.

Di usia 32 tahun (da-fak banget, kenapa harus umur yang sama dengan gue…. ), betul banget, film ini akhirnya berkutat pada Rain di usia yang ke 32. Dimana ada tanda-tanda kemapanan yang tersita. Perhatian bisa ditujukan pada profesi dia, lifestyle dia dan juga dari cara dia berdalih atas nama kemapanan yang terlanjur di-stereotype-kan.

Namun semua kemapanan itu tidak seirama dengan pengalaman percintaan Rain. Yang notabene (secara gak langsung) look come out as a gay. Memang secara eksplisit kita tidak dihadapkan pada karakter yang harus koar-koar di setiap scenes bahwa dia seorang gay. Tapi secara gesture dan gaydar, penonton diarahkan untuk meringkas kata bahwa Rain adalah seorang gay. Lebih tepatnya gay yang gak denial. Yang sebenarnya berbanding terbalik dengan Kris (cinta pertama Rain-kayaknya).

SunTheMoonAndTheHurricaneThePerpisahan mereka menciptakan dimensi baru yang menyatu dan membutuhkan seseorang yang ahli dalam manajemen konflik. Rain dengan INI dan Kris dengan ITU. INI tentang bagaimana akhirnya Rain memposisikan Kris. Sementara ITU tentang bagaimana Kris menjawab dilema yang harus terjawab sebelum film berakhir.

Pertanyaannya sekarang, apakah The Sun, The Moon and The Hurricane bisa berada dalam satu ruang dan waktu yang sama?

Seperti yang pernah diucapkan Andri Cung disebuah portal media. Bahwa membuat film bertema gay itu gampang. Tetapi untuk memasarkannya itu yang susah. Gue bisa mengamini itu bila berkaca pada kondisi di negeri ini. Film ini menyuguhkan realitas yang tidak pernah luput dari masalah gay-gay yang terjerat dalam konsep heteronormatif. Pola konstruksi sosial yang sangat kuat, yang memaksakan bahwa siapapun, orientasi apapun, harus tunduk pada pola hetero (dalam kasus ini pola heteroseksual). Sehingga sangat dimungkinkan, pelanggengan bahwa yang hetero adalah yang benar semakin dikuatkan. Sementara orientasi seksual selain hetero seksual adalah salah. Dan harus di”benar”kan. Istilah kasarnya disembuhkan. Namun kenyataannya, apa yang disembuhkan dari seorang homoseksual? Mengingat homoseksual bukan sebuah penyakit dan tidak ada kekeliruan atas kondisi tersebut.

Gay terpaksa menikah dengan seorang perempuan. menjalani hidup yang hampa. Tanpa rasa. Tanpa jiwa. Kosong. Namun dipaksa bahagia. Terlihat indah bagi yang melihatnya. Namun yang menjalaninya hanya bisa bilang “entah salah saya apa”

Sementara masih dalam kasus “Gay yang menikah dengan perempuan”, selalu dan selalu perempuan sebagai korban. Sadar ataupun tidak sadar. Sengaja ataupun tidak disengaja. Hal ini yang terus terjadi dan terjadi lagi. Why? Mengapa? Kenopo???

Masih ada paham, bahwa sejatinya bila ada pria gay menikah, dia akan dijanjikan bisa berubah menjadi heteroseksual. Namun kenyataannya tidak seperti yang terjanjikan. Masih tetap merasa bahwa lelaki lain lebih indah dan tertambah beban hidup karena ada sosok asing yang dipaksa menjadi pasangan yang bisa menentramkan jiwa, syukur-syukur menyempurnakan rasa yang pernah dianggap salah. Kalau begini, sang perempuan bisa apa. Ikhlas dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Berharap bahwa badai akan segera berlalu. Sang perempuan rupanya selain tertipu, dia juga dipaksa untuk menunjukkan ketidak-tahuannya terhadap identitas yang disandang suaminya. Dan akhirnya dua-duanya layak disebut sebagai korban dari produk konstruksi sosial yang usang. Sudah saatnya pemikiran itu di-upgrade.

Poster Small-thumb-300xauto-44518Kembali ke intisari dari film diatas. Film ini sedikit memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul mengenai, bagaimana perasaan sang perempuan yang menjadi istri dari suami-suami yang memiliki orientasi seksual homoseksual. Yang pasti sakit dan pedih. Namun disatu sisi, ada pergolakan batin yang seharusnya tidak perlu perempuan lakukan. Semisal mempertahankan apa yang seharusnya tidak perlu dipertahankan. Bahkan yang terparah, disaat perempuan mengetahui bahwa suaminya adalah seorang gay, ada yang memutuskan untuk terus bertahan dan mencoba untuk terus bertahan mempertahankan hubungan yang dipaksakan. Seperti apa yang diucapkan tokoh Susan dalam film ini. Dimana dia merasa lelah, namun disatu sisi dia merasa harus berjuang untuk sebuah perubahan. Terkadang ada pemikiran, apa jadinya jika Susan menyerah dalam satu titik, namun padahal pada titik berikutnya ada indikasi perubahan yang terjadi pada diri Kris. Namun itu semua hanyalah bayangan Susan. Bukan realita. Karena kenyataannya tidaklah sepelik itu.

Kalau memang tidak ada kata sepakat untuk saling membahagiakan, kenapa harus diteruskan? Terkadang memang benar kata-kata yang terucap dari bibir Kris. Bahwa Susan berhak untuk mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Kris. Dan Susan dengan bibir satirnya berucap, “dan kau pun berharap agar kau juga mendapatkan lelaki terbaikmu kan?”

Ada banyak sekali keterwakilan atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini digaungkan oleh gay-gay yang memutuskan untuk menikahi perempuan. “Tau kan gimana rasanya mengalami hal tersebut?”

Secara garis besar, alur cerita yang disuguhkan dalam film ini bagi siapapun yang pernah berada diposisi Rain, akan merasakan bahwa menjadi Rain itu tidak mudah. Begitu juga yang pernah atau bahkan sedang berada diposisi Kris dan Susan. Sangat sangat tidak mudah. Gue yakin, selain pengalaman pribadi, penulis dalam film ini juga melakukan riset yang cukup mendalam. Rapi dan tidak berlebihan. Terlebih ketika point of view menyorot karakter Will the Whore.

a01d30edd9f4a6c2d0c2e57e0ff7e5f5Sinematografi yang khas film festival. Pantai, panoramik, montage pol-polan, adegan komunikasi seksual yang digambarkan secara eksplisit, dan yang terpenting dan menjadi stereotype film festival di Indonesia. To much “poetry”.

Jajaran cast yang tampil memukau. Andri Cung gue akui mampu untuk mengarahkan talent-talent yang berbakat. Tidak kurang tidak lebih. Akting semuanya pas. Pantas bagi gue untuk merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh kawan-kawan yang butuh hiburan. Tentu saja yang bukan sekedar hiburan, namun juga sebuah pencerahan. 

Gue beruntung bisa menjadi saksi dimana THE SUN, THE MOON & THE HURRICANE berada dalam waktu dan tempat yang sama… 

 

 I love you Cung!!!

Part of The Gay Men Project

•March 20, 2015 • Leave a Comment

2014, gue mengetahui sebuah blog yang lumayan inspiring. Sebuah blog yang berisi kumpulan foto-foto “gay” dari belahan bumi lain. Dari benua Amerika hingga Eropa. http://www.thegaymenproject.com nama situs tersebut. Dikelola oleh individual Kevin Truong, berdarah Asia (Vietnam) namun besar di Amerika. Seorang Photographer yang aware dengan issue penerimaan diri terkait homoseksualitas. Dan timbul ketertarikan gue buat ikutan mengirimkan tulisan seputar pengalaman hidup gue sebagai seorang gay di Indonesia. Ternyata tidak berhenti sampai disitu. Mendengar kabar kalau Kevin bakal melakukan perjalanan keliling dunia untuk mengumpulkan foto teman-teman gay dari berbagai negara di dunia. dan Indonesia menjadi salah satu jujukannya. Dan akhirnya, Februari 2015 Kemaren, kami bertemu.

With Kevin Truong, Di sebuah restoran di Kota Tua, Jakarta

With Kevin Truong, Di sebuah restoran di Kota Tua, Jakarta

Setelah proses foto-foto yang ternyata cukup melelahkan juga menjadi model, (pantes jadi model papan atas itu bayarannya mahal….) Dan sempat ngobrol banyak hal, kebetulan saat itu, gue juga ditemani temen gue yang pada akhirnya menjadi model juga. well well well…

Akhirnya gue diminta menuliskan beberapa hal terkait kebutuhan dia yang nantinya akan dipublish di situs http://www.thegaymenproject.com dan berikut tulisan gue.

“Bagi saya, menjadi seorang gay adalah bagian dari sebuah proses hidup untuk menjadi seorang manusia seutuhnya. Tidak ada bedanya dengan seorang heteroseksual ataupun orientasi seksual lainnya. Belum lagi bila dihadapkan pada keberagaman gender. Pada dasarnya terlahir menjadi apa dan siapa, tak lantas menjadikan kita berbeda. Dulu saya menganggap diri saya berbeda. Tapi sekarang, sampai detik ini, sebagai seorang gay saya merasa tidak ada bedanya dengan manusia lainnya.
Di dunia ini, hidup adalah tantangan. Hidup adalah perjuangan. Terlahir sebagai gay, ataupun sebagai hetero, tidak lantas menjadikan kita seorang pecundang yang bersembunyi dari balik perasaan karena kita merasa berbeda. Bukan itu. Tapi bagaimana cara kita untuk melanjutkan hidup, tanpa memperdulikan apa identitas seksual kita, apa identitas gender kita, tapi lebih kepada kita sudah berbuat apa untuk menjadikan hidup ini lebih baik. Dan disitulah tantangannya.

Saya adalah termasuk gay yang memilih coming out kepada teman terlebih dahulu. Dulu sempat ada kekhawatiran untuk coming out kepada keluarga. Ada banyak gambaran ketakutan-ketakutan berlebihan terkait pilihan saya untuk memutuskan coming out terhadap keluarga. Namun yang menjadi alasan kuat saya hanya satu. Yaitu mencoba. Karena bagaimanapun, saya tidak akan pernah tahu kebenaran macam apa yang bakal saya terima apabila saya memilih coming out terhadap keluarga. Tentunya sebelum coming out, saya sudah mempersiapkan banyak hal. Yang terpenting pertama, tentu saja, saya sudah berdamai dengan diri saya sendiri. Siapa saya. Karena percuma saja bila kita memilih coming out kepada keluarga, namun urusan penerimaan diri belum selesai. Dan yang kedua selain penerimaan diri, tentu saja kemapanan. Kemungkinan terburuk adalah diusir dari rumah. Dan solusi adalah bagaimana kita bisa bertahan hidup. Dan saya pribadi yakin, apa yang menjadi pilihan saya bukan pilihan yang salah. Dan ketika membuat pengakuan ke orang tua, reaksinya justru berbalik dari apa yang telah saya bayangkan. Ibu saya hanya bisa diam. Berusaha untuk belajar memahami siapa saya. Dan dia berusaha keras untuk bisa menerima kondisi saya. Dan disitulah tugas saya untuk membantunya memahami kepribadian saya. Dan pelan tapi pasti, sedikit demi sedikit, komunikasi dan sharing informasi terkait apa itu homoseksualitas terus berjalan. Walhasil, tidak ada pengusiran. Keluarga pelan-pelan ternyata bisa menerima. Dan life is beautiful.

Komunitas gay di Jakarta ini sangat beragam. Banyak jenis. Dari yang tertutup hingga yang terbuka. Dari yang kelompoknya orang menengah biasa hingga yang mengkhususkan diri hanya yang punya koleksi prada, whatever lah. Sehingga disitu kadang saya merasa sedih…. Memangnya kenapa kalauhal tersebut benar-benar ada? Karena pada kenyataannya itu adalah pilihan. Toh, di lingkungan kaum heteroseksual pun juga ada yang tak kalah heboh terkait komunitas hetero-nya. Justru dari situ bisa saya tarik garis kesimpulan, kita menjadi (dianggap) berbeda, ya karena kita tidak dianggap sama. Kita (gay dan hetero) akan setara justru bila kita bisa memandang bahwa tidak ada yang berbeda diantara kita semua. Bukan berarti juga orang lain dipaksa untuk bisa memahami kita, namun dari gay nya sendiri malah ingin dieksklusifkan, sama juga bohong. Mau bergabung di komunitas mana, semua ada konsekuensinya.

Kalau kita ingin dianggap sama atau setara, jangan pernah kita merasa berbeda. Tapi merasa lah bahwa kita terlahir istimewa dan diciptakan untuk melengkapi perbedaan yang pada dasarnya satu sama. SAMA-SAMA MANUSIA!”

Untuk versi bahasa Inggrisnya bisa dilihat di situsnya. Ketika gue menulis dengan bahasa Indonesia banyak yang komplain, kenapa tidak menggunakan bahasa Inggris ?? Jujur, gue lebih bangga menggunakan Bahasa Indonesia. bisa saja gue menggunakan bahasa Inggris cuman gue ingin orang melihat ada “Indonesia” di diri gue. Itu saja.

by Kevin Truong

by Kevin Truong

Anonymous | Chapter 2: Jomblo

•March 18, 2015 • Leave a Comment

Dan kemudian di Minggu siang yang sangat membosankan, kami (gue dan temen gue) hanya bisa nongkrong doang. Tangan berkutik menginstall beberapa PC yang hendak di-install ulang memakai OS UBuntu. Well sebenarnya gak ada kaitannya sih, antara judul jomblo dengan UBuntu. Hanya saja kami ditempatkan pada ruang dan waktu yang sama.

Obrolan jomblo terlintas begitu saja. Ketika dia komplain, mengapa jomblo dan single berbeda, definisi, makna dan penggunaan kata. Namun bukan berarti gue ataupun dia termasuk dari spesies jumblo. Kami hanya mengobrolkan, bukan merenungkan…

Terkait apa saja yang kami berdua renungkan di Minggu siang itu, simak ajah obrolan gak pentingnya….

Btw, thanks to GIGI yang udah sharing about “kesendirian”

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 92 other followers